Sabtu, 25 Oktober 2008

“KRISIS BIMBANG”

“KRISIS BIMBANG”

Dewasa ini para pemuda Indonesia tengah mengalami krisis bimbang dalam kehidupannya. Mengapa ? Karna pada dasarnya orientasi yang dimiliki oleh para pemuda adalah mencari lapangan pekerjaan. Ditengah - tengah himpitan ekonomi yang semakin merajalela menimbulkan dampak adanya keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Atas dasar itulah para pemuda berusaha mencari lapangan pekerjaan. Ditengah suasana padatnya jumlah populasi pengangguran yang semakin meningkat setiap tahunnya di Indonesia, para pemuda mencoba melawan arus keadaan dengan melakukan persaingan secara sehat demi mewujudkan dasar orientasi dari mimpinya tersebut. Adanya persaingan antar pemuda tersebut dikarenakan sangat terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia baik dari pihak swasta ataupun dari Instansi Pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara banyaknya jumlah pengangguran dengan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia, sehingga melahirkan gejolak psikologis dalam diri para pemuda yang disebut krisis bimbang.
Tidak sampai disitu saja krisis bimbang ini masih terus menghantui jiwa para pemuda yang notabene belum mendapatkan pekerjaan. Seiring perjalanan waktu para pemuda terus bertanya - tanya dalam dirinya tentang prospek cerah mengenai karir dari pekerjaannya diwaktu mendatang atau tentang status para pemuda yang belum menggondol gelar karyawan tetap, karna untuk sementara ini masih menjadi karyawan kontrak. Meskipun dapat dikatakan bahwa sebagian besar para pemuda terlibat didalam perusahaan – perusahaan besar yang mayoritas memiliki “nama” serta bekerja secara elegan (berpenampilan seperti orang kantoran), namun sebagian dari para pemuda belumlah menjadi karyawan tetap didalamnya dan masih terikat sebagai karyawan kontrak yang tanpa disadari mau atau tidak mau para pemuda secara langsung atau tidak langsung dipaksa secara terpaksa untuk terlibat ke dalam outsourcing (perusahaan jasa pencari kerja).
Perlu diketahui sebelumnya outsourcing ini merupakan suatu proses bentuk pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Dapat juga dikatakan outsourcing ini sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya, tetapi pada realitasnya outsourcing ini cenderung didominasi oleh “keserakahan” sebuah perusahaan untuk bisa menekan biaya serendah – rendahnya dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan setinggi – tingginya. Hal inilah yang tanpa disadari telah melanggar etika bisnis. Sementara disisi lain outsourcing secara langsung telah mengurangi sebagian besar hak – hak dari karyawan yang seharusnya bisa menjadi karyawan tetap dan outsourcing itu sendiri menutup semua kesempatan karyawan untuk menjadi tetap. Sehingga melahirkan dampak rawan secara sosial (kecemburuan antar rekan kerja) juga rawan secara pragmatis (kepastian kerja, kelanjutan kontrak, jaminan pensiun).
Persoalan inilah yang menjadi dasar lahirnya krisis bimbang dalam diri para pemuda, disamping persoalan sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Dalam menanggapi persoalan outsourcing ini pergerakan para pemuda ada diantara dua pilihan yaitu melawan arus keadaan atau berdamai dengan keadaan. Bagi para pemuda yang masih memiliki pengharapan sebuah masa depan yang cerah, tentunya ia akan melawan arus keadaan, melawan outsourcing yang merupakan bentuk dari penjelmaan kapitalis dengan intelektualitas yang dimilikinya. Tetapi bagi para pemuda yang tidak ingin mengambil resiko dan memiliki sifat cair seperti es, ia akan berdamai dengan keadaan menjadi budak kapitalis sejati yang senantiasa bermake up tebal agar selalu terlihat manis.
Yang pada akhirnya artikel ini ditulis sebagai bentuk pencerahan dalam menyimak segi realitas yang terpendam. Mencoba mewakili bahasa hati para pemuda yang senantiasa dihantui oleh krisis bimbang dalam dirinya.

---------------xxxxxxxxxx---------------

Kamis, 18 September 2008

“SEPENGGAL KISAH BURUH”




“SEPENGGAL KISAH BURUH”

Hampir setiap tahun pada tanggal 1 Mei kita memperingatinya sebagai Hari Buruh Internasional. Bukan saja di Indonesia, tetapi diseluruh Negara dibelahan dunia. Ratusan buruh atau bahkan ribuan buruh menggelar aksi demonstrasi baik itu dipusat kota, instansi Pemerintah atau bahkan diperusahaan tempat mereka (buruh) bekerja. Aksi dari demonstrasi para buruh ini pun (khususnya di Indonesia) tidak terlepas dari beberapa tuntutan utama. Yang biasanya tuntutan tersebut berkisar tentang kesejahteraan para buruh (baik itu soal gaji, kesehatan, fasilitas yang diterima) maupun tentang kepastian dari kontrak kerja mereka selama ini. Buruh dapat dikatakan sebagai ujung tombak dari suatu perusahaan, karna maju atau tidaknya tingkat distribusi dari hasil produksi disuatu perusahaan ditentukan oleh kualitas kerja dari buruh. Mereka (buruh) pada umumnya bekerja dipabrik – pabrik distribusi suatu barang. Bekerja dengan cara sistem kontrak dengan jam kerja shift (bergantian), pola hidup seorang buruh dapat dikatakan tidak normal karna memang pada umumnya mereka bekerja tidak selayaknya office hours (jam kerja kantor) yang masuk pagi pulang sore. Terkadang mereka (buruh) malah sebaliknya masuk sore pulang pagi, tetapi ada juga yang masuk pagi pulang sore (tergantung dari scedule shift kerjanya). Belum lagi dihitung dalam waktu seminggu mereka mendapat libur satu hari atau bahkan tidak sama sekali (itu pun dalam selip gaji terkadang tidak terhitung lembur), tidak seperti pada umumnya office hours (jam kerja kantor) yang dalam waktu seminggu mendapat libur dua hari yaitu pada hari sabtu dan minggu.
Memang pada dasarnya kita tidak bisa membandingkan pola kerja buruh dengan pegawai kantoran karna memang begitu sangat berbeda dalam soal diskripsi pekerjaanya (job diskription). Terlepas dari hal tersebut kita bisa membayangkan bahwa kehidupan dari seorang buruh begitu sangat melelahkan belum lagi ditambah dengan segala macam bentuk persoalan seperti, minimnya upah harian, tidak adanya jaminan kesehatan (askes), kontrak kerja yang suatu saat dapat dihentikan atau persoalan tentang gaji bulan ini yang belum dibayar oleh pihak perusahaan.
Buruh merupakan simbolisasi dari kemiskinan suatu Negara. Kenapa tidak ? Hal ini dapat diungkapkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia pada umumnya bekerja sebagai buruh di perusahaan – perusahaan terkemuka (asing) yang melakukan investasi di Negeri ini (Indonesia). Sebut saja contohnya pabrik sepatu (Adidas, Spotec) atau dipabrik elektronik (Sanyo, Mitshubisi, LG) sampai ke pabrik rokok (Putra Sampoerna, Gudang Garam). Sementara itu para penghuni diatas meja kerja dari dalam perusahaan asing itu diisi oleh warga negara asing (mayoritas keturunan Cina / Tionghoa) dalam mengelola dan mendistribusikan dari hasil produksi tersebut. Belum lagi kita mendengar tentang perjalanan buruh kita keluar Negeri (TKI), rela berkorban meninggalkan tanah air tercinta (Indonesia) demi selembar rupiah dalam bentuk dollar. Bukannya kenyamanan kerja yang didapat tetapi malah tindak kekerasan yang didapat dalam bekerja (penganiayaan, pemerkosaan, penipuan, bahkan sampai pada pembunuhan). Meskipun hal ini sudah sering terjadi tapi justru kita (Indonesia) bukannya semakin khawatir akan terjadi persoalan yang sama, yang bisa dihadapi oleh siapa saja. Tetapi kita (Indonesia) semakin gencar mengirimkan ribuan buruh (TKI) dari berbagai pelosok desa setiap tahunnya ke Negara – Negara lain sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Yang “katanya” dengan cara seperti inilah kita (Indonesia) bisa memperkecil volume utang negara (Indonesia), karna memang dengan mengirim buruh (TKI) keluar negeri dapat meningkatkan devisa negara (lagi – lagi dalam hal ini buruh dijadikan sebagai ujung tombak). Maka dari itu tak heran jika keluar suatu semboyan bahwa buruh sebagai pahlawan devisa, nampaknya hal ini tidak terlalu berlebihan jika ditilik dari segi realitas yang ada. Tetapi sangat disayangkan ini hanya sebagai bentuk formalitas kata “hiburan” yang diberikan Pemerintah kepada buruh, karna memang Pemerintah pada dasarnya sangat kurang memperhatikan kinerja dari “para pahlawan devisa negaranya”. Tidak ada penghargaan untuk setiap para buruh dari Pemerintah kita (Indonesia) padahal kemiskinan negara ini (Indonesia) sedikit demi sedikit tertutupi oleh nafas – nafas yang keluar dari keringat para buruh. Dari berbagai berita di media massa seperti surat kabar, radio, televisi memberitakan bahwa semakin banyaknya buruh yang bekerja di luar negeri (TKI) maka itu merupakan suatu bentuk cerminan dari simbolisasi kemiskinan suatu Negara (Indonesia). Memang hal ini sangat menyentuh dihati, tetapi hal ini merupakan suatu bentuk realita yang ada dari peradaban baru suatu Negara (Indonesia) yang secara tidak langsung mengadakan sistem “perbudakan” terhadap warga Negaranya.
Lantas sampai kapan suasana seperti ini terus berlangsung ? Sementara itu nun jauh disana para diplomat kita sibuk membuka kredit baru, melakukan diplomasi utang demi kelangsungan hidup Negara kita (Indonesia) yang dirasa lebih penting ketimbang mengurus kasus pembunuhan seorang buruh (TKI) di Negara lain. Apakah materi telah menutup seluruh sendi organ tubuh mereka (Pemerintah) baik mata, telinga dan suara ? Nasib para buruh yang sering kali tidak pernah dipertanggungjawabkan seakan menambah keyakinan yang tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah Negara Buruh !!! Pengorbanan para buruh yang hanya dihargai oleh kata “prihatin” dan “turut belasungkawa”, apakah mengandung sila kedua dari pancasila (kemanusiaan yang adil dan beradap) ? Dalam hal ini Pemerintah seakan tidak mau ambil pusing (mengurusi para buruh), tapi jika dirasa seperti itu apakah ini suatu bentuk ketidakberdayaan Pemerintah dalam mengatasi persoalan yang dihadapi oleh para buruh ? Jadi wajar saja jika setiap pada tanggal 1 Mei (Hari Buruh Internasional) ribuan buruh tumpah ruah ke jalan menggelar aksi demonstrasi tentang tuntutan agar mendapat kehidupan dan kesejahteraan yang lebih layak bagi mereka (buruh). Tapi apakah ini hanya suatu bentuk emosionalitas sikap yang tertuang dalam formalitas belaka, menyuarakan nada – nada sumbang, yang tetapi pada akhirnya tidak pernah ditanggapi dan disadari oleh Pemerintah. Saya sendiri pun tak mampu menjawab tentang hal itu.
Tulisan ini hanyalah suatu bentuk refleksi mengenai keadaan buruh yang sebenarnya. Ditengah hiruk pikuk kesibukan rutinitas kita sebagai manusia yang beradap, terkadang kita melupakan suatu fenomena sosial yang sedang berlangsung setiap harinya disekitar kita. Meskipun terkesan seperti kisah klasik tapi permasalahan ini tak kunjung tuntas diselesaikan oleh Pemerintah. Percaya atau tidak, ada pepatah yang mengatakan “a word once files everywhere...”

----------xxxxxxxxxx----------

Sabtu, 06 September 2008

"PENJARA GAMBIR"

"PENJARA GAMBIR"

Apa yang dirasa tentang suatu keadaan didalam penjara adalah sebuah tempat yang menyimpan kesunyian dan perenungan hidup. Sebuah tempat yang menampilkan wajah – wajah kegelisahan dan sebuah tempat penebusan dosa. Penjara tidak lebih dari sekedar lembah yang terasa begitu buas dengan suasana yang begitu dingin dari lingkungan sekitar. Penjara merupakan keterbatasan hidup dalam gerak dan bersosialisasi. Waktu yang berlalu didalam penjara seakan mempermainkan jalan hidup seseorang yang terasa begitu panjang. Sebuah kata penantian yang ditunggu untuk bertahan hidup dalam ketidakpastian. Mimpi indah yang teracuni hanya beralaskan lantai, serangan binatang malam tak luput menggerogoti badan. Tawa yang terlihat hanyalah samar dari bentuk penderitaan. Penyesalan yang datang sebagai tamu terakhir seakan membuat hati menangis. Penjara itu begitu kelam, tempat kumpulan orang – orang terbuang.
Penjara atau dipenjara itu sama saja... Hidup disana sama saja mati dalam hidup... Karena penjara adalah hal terkotor yang ada dibumi ini... Sesaat ku mengerti tentang penjara yang terasa begitu kental dihati. Sampai pada waktu memanggil kembali... Penjara yang hidup dalam pikiran ini adalah penjara gambir...

"SABTU SORE DI CAWANG"

"SABTU SORE DI CAWANG"

Sabtu sore didaerah Cawang, Jakarta Timur. Suasana saat itu begitu ramai sekali, bukan karena lalu lalang para pejalan kaki atau hiruk pikuk laju kendaraan pribadi atau umum, tetapi ramai para pedagang kaki 5 yang menghampar mempersiapkan beraneka ragam barang dagangannya. Dalam sekejap saja, Cawang yang seharusnya sebagai tempat para pejalan kaki turun dan naik bis, seolah – olah berhasil disulap menjadi sebuah pasar kecil yang begitu ramai dihuni para pedagang kaki 5. Lokasi yang diisi oleh para pedagang kaki 5 bukan dipinggir jalan saja. Tetapi mereka memenuhi segala sudut trotoar dan persimpangan jalan, memakan ruas jalan raya ditiap sisi demi mewujudkan hasrat yang bernilai rupiah. Aktivitas yang mereka lakukan ini sudah tentu sangat menganggu kenyamanan para pejalan kaki serta menimbulkan ketidaktertiban umum didalam masyarakat.
Fenomena sosial ini tentu saja mencerminkan betapa lemahnya kesadaran hukum yang dimiliki oleh masyarakat, selain itu juga memperlihatkan secara terang – terangan (terbuka) ketidaktegasan didalam mengusung sebuah tata tertib kota. Padahal disekitar daerah tersebut banyak terdapat polisi lalu lintas yang bertugas mengatur lalu lintas kendaraan pribadi ataupun umum. Keberadaan polisi disekitar daerah itu seakan – akan menunjukkan ketidakpeduliannya didalam menjaga ketertiban umum dari para pedagang kaki 5. Memang pada dasarnya ini bukanlah bagian dari tugas dan fungsi polisi, tetapi aparat yang lebih berwenang didalam upaya penegakkan ketertiban umum ini adalah Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja). Tetapi setidaknya para polisi tersebut dapat memberikan peringatan atau ketegasan kepada para pedagang kaki 5 agar tidak berjualan dipinggir jalan. Salah satu contoh konkrit dari salah satu pedagang kaki 5 adalah pedagang vcd yang lokasinya berada dibalik pagar dekat jalan layang. Para pedagang vcd ini secara terbuka menjual vcd porno dan memperlihatkan secara terang – terangan didepan khalayak umum. Kelakuan seperti inilah yang dapat merusak moralitas suatu Bangsa terutama para generasi muda, yang dengan mudahnya segala bentuk pikiran dan sikapnya terkontaminasi oleh suatu keadaan disekitarnya. Begitu banyak polisi yang ada disana, tetapi mengapa mereka semua (polisi) yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, seolah- olah tidak tahu – menahu akan hal ini. Apalagi kalau buka dengan “sesuatu” sang polisi pembela ketertiban umnum ini melakukan suatu gerakan tutup mulut. Dengan begitu sang pedagang vcd porno pun dapat bergerak begitu dinamis.
Dapat dimengerti hal ini merupakan pekerjaan sambilan dari polisi lalu lintas dalam “menjaga ketertiban umum”. Bisa dikatakan polisi yang begitu banyak didaerah Cawang dalam mengatur lalu lintas juga memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam menciptakan kemacetan lalu lintas sesaat didaerah Cawang, yang biasanya diakibatkan oleh bis antar kota yang mengetem (menunggu calon penumpang). Bisa dilihat secara jelas, tanpa malu – malu sang kernet bis menyelipkan “sesuatu” ketangan atau kebalik baju polisi. Agar dapat diizinkan sementara waktu untuk mengetem (menunggu calon penumpang), sementara itu bagi bis – bis yang tidak menyelipkan “sesuatu” akan segera disuruh cepat pergi dengan mengatasnamakan kemacetan lalu lintas. Polisi – polisi yang bertugas mengatur lalu lintas didaerah Cawang tidak ubahnya seperti badut yang sedang melakukan atraksi didalam suatu pertunjukkan yang ditonton oleh banyak orang. Badut yang berperut buncit sama dengan para polisi yang berperut buncit, karena perut polisi yang buncit itu adalah hasil dari permainan keringat rakyat kecil itu sendiri. Betapa memalukannya...
Sampai pada akhirnya suasana Sabtu sore didaerah Cawang masih terlihat begitu ramai, dengan beraneka ragam aktivitas yang ada mencerminkan betapa lemahnya jiwa seorang polisi dan betapa rendahnya moralitas yang dimiliki oleh oknum- oknum polisi tersebut serta betapa bobroknya jika kita mengetahui bahwa ternyata Instansi Kepolisian Republik Indonesia itu sebagian diisi oleh oknum – oknum polisi berperut buncit yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, tetapi malah menjaga ketidaktertiban umum demi “mengisi sesuatu” untuk perut buncitnya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah hal ini sudah mencapai taraf dibawah standarisasi otak para oknum polisi berperut buncit...???


----------XXXXXXXXXX----------

Jumat, 04 Juli 2008

“NONGKRONG DI WARTEG”

“NONGKRONG DI WARTEG”

Nongkrong di warteg sama nongkrong di restoran tentu sangat jauh berbeda, baik dari segi kualitas makanan yang disajikan, maupun dari segi pelayanan, suasana sampai dengan harga yang ditawarkan. Nongkrong di restoran kita bisa menyantap makanan yang jarang kita temui, dengan beraneka ragam nama yang terkadang sangat sulit sekali kita hapal. Di restoran kita juga akan mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan dari para waiters yang begitu sopan dan murah senyum. Tentunya hal ini juga didukung oleh suasana yang cukup nyaman, sambil menyantap hidangan yang telah disediakan kita bisa mendengarkan suara alunan musik yang terkadang membuat suasana menjadi semakin romantis dan menyenangkan. Yang pastinya itu semua harus dibayar dengan harga yang telah disesuaikan oleh fasilitas dan kemewahan yang telah disajikan. Rata – rata kebanyakan orang yang nongkrong di restoran ini adalah kaum menengah ke atas atau lebih tepatnya termasuk ke dalam golongan manusia elite yang bebal alias berkantong tebal. Suasana yang nyaman dan terkesan romantis ini terkadang selalu dijadikan landasan untuk melakukan pembicaraan – pembicaraan yang bersifat formal seperti mengundang relasi atau rekan bisnis untuk membahas tentang proyek terbaru dari perusahaan atau sampai pada pembicaraan seputar hubungan percintaan sepasang kekasih yang tidak jelas mau dibawa ke arah mana.

Lain halnya ketika pada saat nongkrong di warteg, kita akan menjumpai menu asli Indonesia yaitu tahu dan tempe, tidak ketinggalan sambel terasi serta goreng – gorengan yang ada. Nongkrong di warteg juga bisa mendapatkan pelayanan yang baik asal tidak melakukan kasbon atau dengan bahasa bekennya ngutang, yang bisa membuat pemilik warteg jadi uring – uringan ketika melayani. Suasana yang didapat pun sangat berbeda karena berbaur dengan tukang ojek, tukang becak dan buruh, sehingga pada saat menyantap makanan seringkali tercium aroma badan yang kurang sedap. Panas dan gerah itulah keadaannya karena beratapkan seng yang dapat menghantarkan panas dari sengatan matahari. Harganya pun cukup terjangkau, sangking terjangkaunya banyak pelanggan yang melakukan kasbon karena merasa sanggup membayar dikemudian hari. Selain itu pada saat nongkrong di warteg jarang sekali kita mendengar bisik – bisik dari tetangga sebelah yang berbicara mengenai masalah percintaan atau bisnis perusahaan. Yang ada malah sebaliknya terdengar nada – nada sumbang berbalut keluhan mengenai pekerjaan atau urusan rumah tangga seperti “kenapa ya kontrak kerja gue gak diperpanjang...???” atau seperti ini “waduh bini gue dirumah uring – uringan mulu gara – gara kagak gue kasih uang belanja” sampai dengan pembicaraan lepas atau seringkali disebut ngobrol ngalor ngidul mengenai menang kalah taruhan pertandingan sepak bola semalam atau menanggapi soal kenaikan harga BBM sampai – sampai pembicaraan mengenai nomer togel yang kira – kira akan keluar. Bahkan terkadang ada pembahasan mengenai perang yang tengah berkecamuk antar negara yang buntut – buntutnya mengarah pada pertanyaan siapa penemu bom atom....???

Menarik sekali jika ditelusuri, dan ternyata warteg telah menjadi suatu bentuk aktivitas dimana kaum menengah ke bawah selalu mendatanginya sebagai tempat bersandar melepas lelah atau sekedar ngeceng sambil ngopi. Secara tidak langsung warteg juga sebagai tempat berkeluh kesah tentang susahnya mencukupi kebutuhan hidup pada saat ini. Di sisi lain warteg juga bisa sebagai tempat yang menyenangkan untuk mencari lawan bermain catur atau sebagai tempat transaksi jual beli nomer togel. Tanpa disadari seakan – akan warteg menjadi saksi tentang keceriaan dan kesedihan rakyat miskin. Hal inilah sangat membedakan ketika kita nongkrong di warteg dengan nongkrong di restoran, tergantung selera dan isi kantong kita untuk memilih nongkrong dimana, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan serta menjadi ciri khas tersendiri.

--------xxxxxxxxxxxx--------

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

Ketika suara – suara demokrasi tidak lagi didengar, ketika para pejabat Pemerintah terlalu lama bermain dengan pertimbangan dan ketika pada saatnya suatu bentuk perubahan memakan korban. Maka yang akan terjadi selanjutnya adalah chaos (kerusuhan). Hal ini bisa dikatakan sebagai hukum alam yang dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Seperti yang terjadi pada saat ini, Dampak dari kenaikan harga BBM dan insiden berdarah di UNAS telah memicu adanya aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung didalam Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) untuk melakukan aksi unjuk rasa didepan Gedung DPR/MPR pada hari Selasa (24/6) kemarin. Pada aksi demonstrasi kali ini mahasiswa lebih bersifat anarkis dengan melakukan pemblokiran di jalan-jalan protokol seperti Jalan H.R. Rasuna Said, Jalan Gatot Subroto, serta pada sore harinya di Jalan Sudirman dikawasan Semanggi. Aksi anarkis mahasiswa tidak hanya dengan melakukan pemblokiran jalan, tetapi mahasiswa juga melakukan aksi pengerusakan mobil polisi dan pintu pagar Gedung DPR/MPR. Selain itu mahasiswa juga melakukan aksi pembakaran mobil dinas berplat merah yang diduga mobil tersebut milik Pemerintah.

Mencermati fenomena yang terjadi pada saat ini, aksi demonstrasi mahasiswa yang cenderung bersifat anarkis, lebih terlihat mengedepankan perasaan emosi ketimbang sisi intelektualitas yang ada. Sehingga penyampaian aspirasi masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa tidak lagi terlihat sebagai perjuangan rakyat yang murni tetapi sebagai perjuangan rakyat yang telah dikotori dan terkesan ditunggangi oleh sekelompok kepentingan yang ada. Seharusnya mahasiswa bisa menempatkan diri dan merapatkan barisan didalam menyelesaikan dan menanggapi persoalan kenaikan BBM dan insiden berdarah di UNAS, bukan dengan jalan kekerasan dan kerusuhan. Logikanya jika tuntutan dari mahasiswa ini dipenuhi oleh Pemerintah, pasti akan menguntungkan rakyat. Tetapi jika sebaliknya Pemerintah lebih bersikap pasif dan tidak memenuhi tuntutan dari mahasiswa pasti akan merugikan rakyat, karna apa ? tidak lain karna aksi anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa. Mengakibatkan terjadinya kemacetan lalu lintas, masyarakat sipil yang tidak tahu menahu tentang aksi demonstrasi ini tertangkap oleh aparat kepolisian, terjadinya bentrokan antara aparat dengan mahasiswa yang melukai sebagian dari masyarakat sipil. Apakah ini yang dinamakan suatu bentuk pengorbanan jika menginginkan adanya suatu perubahan…??? Tidak…!!! bukan seperti ini yang dinamakan pengorbanan yang pada akhirnya menyengsarakan masyarakat sipil juga. Masyarakat mempercayai mahasiswa sebagai pembawa amanah dan aspirasi masyarakat, seharusnya hal ini dapat dipegang teguh dan dijalankan oleh mahasiswa dengan sebaik mungkin. Mengutamakan intelektualitas dan kecerdasan yang ada dengan jalan perundingan yang dilakukan oleh sebagian dari perwakilan mahasiswa dengan anggota komisi DPR/MPR yang mewadahi dari permasalahan itu sendiri. Duduk bersama membahas permasalahan dan mencari jalan keluarnya untuk kepentingan bersama. Dengan cara seperti itu mahasiswa akan terlihat lebih dewasa, bukankah sedari dulu mahasiswa sebagai agent of change atas Negeri ini. Hendaknya hal itu disadari dengan bersifat diplomatis dan bijak dalam menyingkapi permasalahan yang ada.

Nampaknya kita juga harus tahu fungsi dasar dari keberadaan mahasiswa ini adalah sebagai kontrol terhadap kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, sah – sah saja jika mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa jikalau kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah itu tidak berpihak dan terlalu merugikan rakyat karna memang pada dasarnya mahasiswa sebagai wadah yang menjembatani antara kepentingan Pemerintah dengan kepentingan rakyat. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah unjuk rasa dengan cara seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk bisa mendapatkan simpati dari rakyat…??? Dengan cara kekerasan ataukah dengan cara tertib dan damai…???

Kita mungkin hanya bisa tersenyum ketika melihat aksi kekerasan dalam unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa kemarin atau bahkan sebagian dari kita hanya dapat mampu mencibir melihat fenomena itu terjadi atau yang lebih parahnya lagi mungkin sebagian dari kita mengambil sikap tidak peduli. Tetapi itulah demokrasi kita bebas untuk mengekspresikan diri. Karna memang mulai saat ini sayup – sayup terdengar suara demokrasi seakan tidak berfungsi jika kekerasan menjadi landasan.

--------xxxxxxxxxxxx--------

“AKU”

“AKU”

Aku ingin menjadi lampu yang sinarnya memancarkan ke segala penjuru memberikan arti bagi babak baru dari sebuah kehidupan. Aku ingin menjadi mata air alami yang dibutuhkan oleh umat manusia demi kelangsungan hidupnya. Aku ingin menjadi gubuk tua sebagai tempat bersandarnya fajar penderitaan disaat bunga kebahagiaan tidak terbit. Aku ingin menjadi pohon besar yang memberikan keteduhan bagi jiwa yang dilanda kecemasan dan roh – roh yang mengitari rasa ketakutan. Aku ingin menjadi malam yang selalu menentramkan serta mendamaikan suasana hati dari kesedihan lalu merangkulnya ke alam mimpi. Aku ingin menjadi kepastian yang menghadirkan kenyataan setelah harapan pergi. Dan aku ingin menjadi suatu maha karya yang senantiasa mengorbitkan inspirasi dan imajinasi untuk para penyair dan pujangga disaat standart otak merajai saraf pengetahuan. Untuk terakhir kalinya aku berkeinginan menjadi taman surga yang melimpahkan kebahagiaan, kekayaan, kesenangan, kemudahan, kepastian untuk para penghuni bumi.

--------xxxxxxxxxxxx--------

Sabtu, 07 Juni 2008

“ INDONESIA BERKABUNG ”

“ INDONESIA BERKABUNG ”


Indonesia berkabung, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi pada saat ini. Berbagai macam polemik muncul ditengah – tengah kesengsaraan rakyat miskin. Beraneka ragam dinamika permasalahan yang ada seakan tidak habis tuntas untuk dapat diselesaikan secara baik dengan mengatasnamakan kebersamaan. Tetapi dari sinilah kita masih dapat mampu melihat dan mencium aroma demokrasi yang ada. Meskipun itu masih terlihat samar, suara – suara demokrasi masih sayup – sayup terdengar dengan jelas. Tentunya masih teringat dalam benak kita mengenai kebijakan Pemerintah dalam rangka menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada hari sabtu (24/5) bulan lalu, yang mengundang reaksi keras dari berbagai unsur, elemen dan golongan masyarakat, yang menolak secara tegas atas kenaikan harga BBM tersebut. Gelombang aksi unjuk rasa ini pun terjadi hampir diseluruh bumi nusantara tercinta ini. Sampai pada saat mencapai klimaksnya terjadi insiden berdarah dikampus Universitas Nasional (UNAS). Insiden ini terjadi karena adanya penyerangan secara mendadak dari aparat kepolisian terhadap mahasiswa UNAS selepas mengadakan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Gerakan mahasiswa ini dilatarbelakangi oleh rasa ketidakpuasan dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa terhadap kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah tersebut. Selain itu juga dikarenakan oleh semangat kebangkitan nasional yang baru saja kita peringati pada tanggal 20 Mei bulan lalu.

Sungguh sangat memperihatinkan sekali bahwa dengan adanya insiden ini telah berhasil mencoreng nama baik instansi kepolisian selaku lembaga institusi pelindung masyarakat menjadi lembaga institusi musuh masyarakat, khususnya musuh para mahasiswa. Mahasiswa selaku agent of change atau biang perubahan terhadap suatu bangsa yang dilahirkan dari suatu keadaan bangsa yang tidak normal, mencoba menyingkapi berbagai permasalahan yang ada dengan suara – suara demokrasi, tetapi sangat ironis sekali jika suara – suara demokrasi itu telah berhasil disumpal untuk sementara waktu oleh tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian. Lantas dimana makna sesungguhnya dari peringatan 100 tahun kebangkitan nasional yang selama ini selalu didengung – dengungkan lewat media massa dan elektronik berupa iklan – iklan ditelevisi dan koran. Apakah ini hanya bentuk skenario dari sandiwara politik agar nilai eksistensi yang mengatasnamakan suatu golongan dapat dihargai…??? Ataukah hanya sekedar formalitas untuk kembali mengingat pada romantisme masa lalu tentang sejarah pergerakkan di Indonesia…??? Apapun jawabannya hanya Tuhan yang tahu.

Belum tuntas permasalahan ini diselesaikan, telah muncul masalah baru lagi. Yakni terjadi insiden berdarah di Silang Monas pada hari minggu (1/6). Insiden ini terjadi karena adanya penyerangan secara mendadak dari Front Pembela Islam (FPI) terhadap massa Aliansi Kebangkitan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang pada saat itu tengah mengadakan acara peringatan hari lahirnya Pancasila. Latar belakang terjadinya penyerangan yang dilakukan oleh FPI ini dikarenakan adanya persepsi bahwa sebagian massa dari AKKBB ini menganut aliran sesat Ahmadiyah. Walhasil dampak dari penyerangan FPI ini mendapat kecaman keras dari berbagai unsur dan golongan keagamaan diberbagai daerah di Indonesia, yang menuntut untuk segera dibubarkannya FPI. Akhirnya pada hari rabu (4/6) aparat kepolisian berhasil menangkap para pelaku FPI termasuk Ketua Umum FPI Pusat itu sendiri untuk dimintai keterangannya sebagai saksi dan penanggung jawab atas terjadinya insiden berdarah ini. Penangkapan ini sebelumnya telah didahului oleh pembekuan FPI diberbagai daerah seperti cabang FPI di daerah Jember dan Surabaya, telah menyatakan diri untuk membubarkan FPI.

Lagi – lagi dalam hal ini kita bisa melihat betapa kurangnya jiwa nasionalisme yang terkandung didalam batin anak – anak bangsa Indonesia pada saat ini. Menodai hari lahirnya Pancasila dengan bentuk kekerasan yang ada. Mengutamakan perbedaan tanpa melihat adanya nilai – nilai persaudaraan yang terangkum didalam sila ketiga yakni Persatuan Indonesia. Bung Karno selaku The Founding Fathers pasti akan menangis dan mengutuk secara tegas aksi yang terjadi pada tanggal 1 Juni minggu lalu. Ibu pertiwi yang telah dibesarkannya ini akan terasa percuma jika setiap waktunya hanya diisi oleh tindak kekerasan yang mengatasnamakan perbedaan. Sungguh betapa memprihatinkan nasib masa depan Negeri ini, jika hal yang serupa dapat terulang lagi.

Berbagai rangkaian persoalan di Negeri ini datang satu persatu ditengah – tengah titik keringat rakyat miskin yang merasa begitu sulit dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari sinilah kita dapat melihat betapa besar peran dari media massa dalam menangkap dan menggabarkan suatu berita. Disatu sisi media massa dapat berperan aktif didalam mewujudkan suatu keadaan menjadi lebih baik lagi, tetapi disisi lain media massa dapat menutup semua kenyataan tentang kejadian yang sebenarnya. Sangat dikhawatirkan sekali bahwa peran media massa yang terlalu “mempopulerkan” berita – berita faktual terkini membawa dampak negatif disekeliling masyarakat, yakni melupakan permasalahan bangsa yang sangat krusial dibidang kesejahteraan rakyat, yaitu tentang naiknya harga BBM yang nantinya cepat atau lambat akan disusul dengan kenaikan tarif listrik dan air. Tidak dapat dipungkiri bahwa pristiwa – pristiwa yang terjadi akhir – akhir ini telah dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengatasnamakan suatu golongan untuk berleha – leha dalam menyalurkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk rakyat miskin diberbagai daerah. Sementara itu disisi lain media massa melupakan hal tersebut bahwasanya telah terjadi antrian panjang dalam mencairkan dana BLT atau terjadinya birokrasi kompleks didalam pencairan dana BLT tersebut. Pastinya kita sangat mengharapkan sekali bahwa media massa dapat membuktikan eksistensi dirinya sebagai lembaga pers yang bersifat independent, tanpa dipengaruhi oleh berbagai kelompok kepentingan yang ada. Semoga dengan adanya kebebasan pers pada era Reformasi saat ini tidak membuaikan peran dari media massa yang sesungguhnya.

Tidak lebih dari sekedar wacana, bahwa ada atau tidaknya BLT ini, Pemerintah pasti akan memberikan subsidi bagi rakyatnya. Begitu juga sebaliknya ada atau tidaknya subsidi dari Pemerintah ini rakyat miskin masih sanggup untuk bertahan hidup. Tetapi jangan pernah dilupakan bahwa kehadiran rakyat miskin akan terus bertambah seiring dengan kebijakan Pemerintah didalam menaikkan harga BBM tersebut. Angka kemiskinan akan naik secara drastis meskipun Pemerintah telah memberikan subsidi kepada rakyatnya yang tak lain kalau disalahartikan subsidi ini hanya sekedar hiburan sementara. Suatu bentuk pembodohan yang dilakukan secara abstrak agar masyarakat hidup dalam ketergantungan ekonomi, tidak lain maksudnya untuk membuat mereka malas bekerja dan malas berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa harus bergantung pada BLT. Rasanya tidak terlalu berlebihan jika suasana hati saat ini menyatakan Indonesia berkabung…!!!

--------xxxxxxxxxxxx--------

“MASA DEPAN YANG ABSTRAK ”



“MASA DEPAN YANG ABSTRAK ”

Aku berpikir tentang masa depan yang senantiasa selalu menghantui jiwa kaum muda dalam masa transisi menuju dewasa. Ketakutan tanpa alasan bergelut dalam hati tanpa pikiran yang pasti, seiring perputaran waktu berganti. Masa depan hanyalah perjalanan waktu hari ini menuju hari esok dan hari esok menuju lusa…… Masa depan tidak akan pernah ditemui, karna masa depan adalah hari ini……. Sementara masa depan yang selalu menghantui kita hanyalah sebuah gambaran maya yang terpenjara dalam pikiran, senantiasa memaksa kita untuk ber”phobia” tentang masa depan. Jadi tidak ada alasan untuk mencemasi masa depan…. Terlepas dari sisi nuansa pesimistik yang ada, perlu kita ketahui bersama bahwa masa depan sekali lagi hanyalah perjalanan waktu. Begitu cepatnya perjalanan sang waktu secara sadar atau tidaknya diri kita ini, sebenarnya masa depan telah berada dihadapan kita. Maka dari itu kita perlu banyak persiapan amunisi dalam menciptakan masa depan yang begitu ideal sesuai dengan harapan dan mimpi – mimpi kita selama ini. Untuk kaum muda perang tidak akan pernah selesai dalam menentukan masa depan yang lebih baik. Kaum muda harus bertempur untuk menempatkan dirinya kembali dalam perang yang lebih dahsyat guna mengejar masa depan yang nyaris tertinggal. Ehmm…. Kira – kira masa depan ku seperti apa ya…??? Itu konyol… Jika kita hanya mampu berpikir tapi tidak bertindak sama juga mati bunuh diri…. Hal yang harus dilakukan adalah berpikir dan bertindak, keduanya sangat mempengaruhi hidup kita didalam menggapai masa depan. Tentunya tidak kita lupakan bahwa dibalik usaha pasti harus ada doa.
Salam Perjuangan Kawan……!!!!

--------xxxxxxxxxxxx--------

Minggu, 01 Juni 2008

“ CATATAN HARI INI “


“ CATATAN HARI INI “

Sudah cukup jauh aku berjalan, dari sekian ribu waktu yang telah dilalui begitu banyak hal yang aku temui. Memberikan makna yang berbeda dalam setiap kisah tentang kehidupan. Melahirkan segumpal tanya tentang seputar kehidupan apakah memang materi yang telah menjadi kuasa hidup sementara ada kesalahan dalam diskriminasi antar golongan…??? Menyebabkan terjadinya jurang kesenjangan sosial yang semakin dalam antara Si kaya dan Si miskin. Mengapa seseorang selalu menilai penampilan pada satu nilai yang lebih, hanya sekedar menunjukkan eksistensi dirinya…??? Baik atau tidaknya seseorang sering kali dinilai atas landasan praduga sementara. Cobalah sejenak kita renungkan tentang siapa diri kita yang sebenarnya dan tentang siapa mereka yang sebenarnya, tentang kaum minoritas yang termajinalkan oleh keadaan sekitar. Tentang suatu kaum yang sebenarnya layak duduk disamping kita, berbagi dalam suasana persaudaraan tanpa memandang adanya perbedaan. Pada catatan hari ini aku akan mencoba mengisahkan tentang sisi lain dari kehidupan perempuan malam, pengemis dan penyapu jalan. Yang tak lain ketiganya merupakan bagian dari kehidupan kita.

Pada malam itu di stasiun tua didepan gerbong kereta yang kosong dan gelap. Ia berdiri menggoda dengan sebatang rokok yang menghiasi jarinya. Perempuan malam itu selalu melemparkan senyum pada setiap pria yang melewatinya. Menawarkan jasa kehangatan demi beberapa lembar rupiah. Tentunya kita tidak akan pernah tahu untuk apa hasil yang ia dapatkan disetiap malam. Untuk bertahan hidup menambal rasa lapar ? Untuk membeli susu demi kesehatan anaknya ? Ataukah untuk memperkaya diri, dengan segala macam aksesoris kosmetik ? Pastinya ia memiliki sebuah harapan yang mulia. Perempuan malam yang terlihat begitu hina memiliki banyak cerita tentang petualangan bercinta atau tentang kehidupan yang terasa menjemukan, perempuan malam yang dijuluki sampah masyarakat, ternyata memiliki air mata tentang kegetiran hidup atau tentang kenikmatan duniawi. Perempuan malam yang terlihat begitu nakal ternyata memiliki satu kebaikan, nurani sosial berbicara bahwa hidup tidak mengenal individualistis. Perempuan malam yang terlihat begitu binal ternyata hidup dalam jeratan setan ekonomi. Bahwasanya setitik keringat membawanya pada satu nilai rupiah. Bertahun – tahun ia menjalani profesi ini sampai pada saat keriput – keriput wajah mulai terlihat. Usia tidak dapat menipu diri meski begitu tebal make up diwajah, tidak membuatnya merasa malu, walau nilai dirinya tidak semahal dahulu.

Di stasiun tua didepan gerbong kereta yang kosong dan gelap menjadi sebuah arti kisah tentang perempuan malam. Menjadi saksi tentang perjalanan hidupnya. Sampai terdengar sayup – sayup suara azan subuh memanggil, perempuan malam bergegas kembali kerumah. Mengingat kembali bahwa setiap malam memiliki kisah yang berbeda.

Jauh beberapa puluh kilometer dari stasiun tua, tepatnya dipersimpangan lampu merah memiliki kisah yang berbeda tentang pengemis tua. Sandiwara kehidupan ini tidak lebih menonjolkan sisi realitas yang ada. Berbicara tentang Kemiskinan…. Dipersimpangan lampu merah ia menyandarkan hidupnya. Di batas lelah lalu lalang baja beroda ia menyuguhkan ketiadaan. Harapan yang senantiasa ia terbangkan terkadang tidak datang kembali. Udara yang tidak segar dari senapan – senapan knalpot beroda menjadi santapan harian. Dengan menadahkan tangan memasang raut wajah yang layu menjadikan pekerjaan. Semua yang ia lakukan adalah demi kelangsungan hidup, demi mengisi kekosongan perut dan demi orang – orang terdekat yang ia sayangi. Pekerjaan yang berbalut kebiasaan ini pun tak selamanya disambut baik oleh perasaan hati yang iba. Kedongkolan yang berakar pada realitas dan logika seakan menahan diri untuk memberi, atau bahkan untuk sekedar memberi senyuman dan menganggukan kepala sebagai rasa hormat, telah dilupakan oleh jiwa – jiwa yang menjungjung tinggi nilai – nilai materialisme.

Meskipun begitu ia masih tetap mampu bertahan hidup karna tangan Tuhan memiliki peran. Dari hati kecil yang paling dalam ia menorehkan tinta kebosanan karna takdir dan nasib telah menjadi suatu alasan. Tak kenal lelah ia menyapa dan menghampiri serangkaian pasukan berhelm atau baja beroda empat. Ketika sepi tiba ia sempatkan diri untuk menghitung tiap lembar rupiah yang sama dekil dengan dirinya. Ia bernyanyi dengan mulut terkunci dan berbicara dengan bahasa perasaan. Tentang makna hidup yang sebenarnya telah ia tunjukkan lewat rutinitasnya. Karna dipersimpangan lampu merah telah menjadi simbol tentang ketiadaan, tentang kemiskinan dan tentang siapa diri kita yang sebenarnya telah menjadi cermin disana.

Lalu apa komentar mereka yang tak mengenal makna kehidupan yang sesungguhnya, tentang penyapu jalan. Apakah ia sebagai manusia rendahan…??? Apakah ia termasuk manusia yang tak layak untuk diperhitungkan…??? Apakah ia juga termasuk golongan sampah sama seperti profesinya…??? Kenapa…??? Begitu banyak orang memandang dari segi luarnya saja. Tidakkah mereka semua menyadari, bahwa penyapu jalan memiliki peran penting dalam mengubah wajah kota, lebih penting daripada mereka para pejabat yang sibuk dengan teori – teori dibalik meja kerja, bicara tentang kebersihan kota…. Dimana prakteknya…??? Penyapu jalan lebih menunjukkan nilai eksistensi dan peran jati dirinya, bergerak bebas sehingga terlihat hasil kerjanya. Diballik seragam lusuhnya ia memiliki tanggung jawab yang besar dalam menyelamatkan reputasi wajah kota. Tapi… Sayang tidak sebanding dengan apa yang ia dapatkan selama ini. Tidak ada pengakuan atau penghargaan untuk dirinya apalagi untuk sekedar kenaikan gaji… Tidak ada… !!! Yang ada hanya penghargaan bagi kota yang bersih itu juga yang menerima penghargaan adalah Walikota setempat. Meski begitu penyapu jalan adalah pahlawan kota yang terlupakan, termajinalkan oleh suatu keadaan dan sangat perlu diperhitungkan serta layak untuk diperhatikan.

Dari ketiga fenomena diatas dapat kita lihat bahwa ternyata memang benar materi telah menjadi suatu tolak ukur dalam kehidupan ini. Pada umumnya mereka adalah kaum minoritas yang terjerat didalam lingkaran setan ekonomi. Membuat diri mereka semakin termajinalkan oleh suatu keadaan. Mengakibatkan lahirnya perbedaan diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Melupakan persamaan yang ada bahwa mereka juga manusia yang layak untuk dihargai. Hilangnya rasa persaudaraan pada tiap – tiap individu telah membuka jurang adanya kesenjangan sosial diantara mereka. Masih ingatkah kita bahwasanya manusia diciptakan sebagai mahkluk sosial, yang sisi kehidupannya tidak dapat terlepas dari bantuan manusia lainnya. Tapi sepertinya kesadaran itu semakin memudar seiring adanya kemajuan globalisasi. Bagi mereka kaum minoritas yang tidak memiliki kesempatan untuk berkompetisi secara global akan dianggap remeh oleh mata – mata yang haus akan materi.

Kaum minoritas sama seperti kita lazimya manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan. Mereka memiliki hak atas apa yang telah kita dapatkan. Mari bersama kita ulurkan tangan guna meringankan beban hidup mereka, menyisihkan sebagian apa yang kita punya guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Lupakan perbedaan yang ada, tanamkan rasa persaudaraan dihati. Bahwa makna hidup sebenarnya adalah saling memberi antar sesama manusia, satu hal yang menjadi alasan mengapa harus begini karna kita hidup tidak sendiri, kita juga hidup dalam kebersamaan memerlukan bantuan orang lain. Jadi sudah sewajarnya kita memiliki sikap untuk berbuat baik antar sesama. Mudah - mudahan semua mimpi dapat terangkai dan tali silaturahmi dapat terjalin. Pastinya akan lahir satu kedamaian dalam hidup ini. Amin.

Catatan hari ini merupakan suatu bentuk refleksi diri tentang suatu keadaan disekitar kita, yang tidak akan pernah bisa terlepas dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Mencoba mengupas sisi lain dari realitas yang ada dengan menyajikan keadaan yang sebenarnya. Mudah – mudahan dapat diambil manfaatnya, sedikit menyegarkan pikiran agar tidak terjadi stagnan didalam pola pikir kita terhadap satu penilaian.

------xxxxxxxxx------

“……………………..”





“……………………..”

Saya mimpi tentang sebuah dunia,

Dimana ulama, buruh dan pemuda,

Bangkit dan berkata stop semua kemunafikan,

Stop semua pembunuhan atas nama apa pun.

Dan para politisi di PBB,

Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras,

Buat anak – anak yang lapar di tiga benua,

Dan lupa akan diplomasi.

Tidak ada lagi rasa benci pada siapa pun,

Agama apa pun, ras apa pun, dan bangsa apa pun,

Dan melupakan perang dan kebencian,

Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Tuhan saya mimpi tentang dunia tadi,

Yang tak akan pernah datang.

Dan atas nama kehendak baik,

Biarlah kekuasaan sekedar struktur,

Bukan alat penindasan !

Biarlah kekayaan anugerah semata,

Bukan harta untuk membeli sesama !

Biarlah keadilan memilih benar,

Dan tidak menapikan kebenaran !

Sekali lagi atas nama kehendak baik,

Berhentilah mengasapi luka – luka dunia ini !

(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, 5-6 April 1969)

Kamis, 29 Mei 2008

“WUALAH……BANJIR LAGI……”

“WUALAH……BANJIR LAGI……”

Ini pertama kalinya aku menyaksikan gejala sosial yang timbul di Jakarta, setelah aku kembali dari Bengkulu. Jakarta banjir pada Jum’at 1 Februari 2008. Sepulang kerja sore itu aku nyaris terjebak oleh air yang tidak kenal kompromi. Jakarta terserang banjir untuk beberapa wilayah yakni di Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Banyak orang mengeluh dan berkomentar tentang Ibukota Negara yang terancam tenggelam oleh air ini. Ribut sana sini mengenai teriakan banjir oleh masyarakat sekitar membisingkan telingaku. Para pengungsi yang termasuk kedalam golongan warga miskin ini pun berjalan beriringan ditengah arus air yang tenang.

Hampir setiap tahun Jakarta dilanda banjir dan hampir setiap tahun pula mereka berkelekar tentang banjir. Tapi apakah mereka semua para elite politik, pejabat Pemerintah, pengusaha dan rakyat miskin menyadari bahwa teriakan mereka sama sekali tidak seimbang dengan prilaku mereka selama ini. Tangan-tangan mereka yang bergerak membuang sampah sembarangan mengakibatkan selokan, sungai, kali bahkan laut pun menjadi penghuni sampah yang menghambat jalannya air. Jika dihitung oleh umur mereka semua, sudah berapa kalikah mereka membuang sampah sembarangan. Itu hanya hitungan tahun bagaimana setiap harinya, lalu dikalikan lagi dengan jumlah penduduk Jakarta dan Sekitarnya. Wualah…Menyedihkan sekali nasib ikon Negara Republik Indonesia tercinta ini. Jadi wajar saja jika Jakarta menumpahkan airmata kesedihannya.

Alangkah indahnya bagi mereka semua yang menyadari bahwa ini adalah bagian dari ulah para penghuni Jakarta itu sendiri. Banjir datang tak kenal kompromi sama seperti para manusia yang tak kenal kompromi ketika membuang sampah sembarangan.

-----xxxxxxxxxxxx-----

“ SEKEDAR SAPA JAKARTA… ”



“ SEKEDAR SAPA JAKARTA… ”

Jakarta memang konyol,,,, tapi aku tidak bisa menyalahkannya begitu saja. Aku melihat dan merasakan tentang fenomena sosial yang terjadi didalamnya. Sebuah realita yang sesungguhnya menarik perhatianku untuk menyaksikan drama kehidupan manusia, menampilkan setiap adegan yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu alur cerita tentang kemiskinan. Jakarta yang memiliki peran besar sebagai Ibukota Negara telah memiliki dampak negatif bagi para penduduknya. Hal ini sangat dirasakan ketika program kerja dibidang kesejahteraan rakyat tidak berjalan secara menyeluruh dan tidak merata mencangkup segala unsur golongan penduduknya, melahirkan sejumlah persoalan yang ada seperti jumlah pengangguran yang semakin meningkat setiap tahunnya, ditambah lagi dengan kebutuhan hidup yang semakin sulit terjangkau oleh kelas menengah kebawah. Melahirkan beragam profesi yang harus dijalani demi mempertahankan hidup.

Yang menarik perhatianku…. Profesi ini tidak hanya dijalani oleh kaum tua dan muda, tetapi anak-anak kecil juga memiliki peran didalamnya. Ada yang menjadi tukang semir, tukang koran, pengamen kecil, sampai-sampai menjadi seorang pengemis kecil. Sudah lama fenomena sosial ini terjadi sehingga melahirkan apa yang dinamakan dengan masalah sosial. Karena hal ini sudah menyangkut eksploitasi anak dengan cara memperkerjakan atau sengaja membiarkan anak kecil mencari uang dibawah umur. Seharusnya mereka para pewaris bangsa duduk manis di sekolah menikmati jenjang pendidikan dan bermain sebagaimana lazimnya anak-anak kecil yang biasa, tapi bukan untuk dijalanan.

Apakah sebegitu kejamnya lingkaran setan ekonomi…??? Membiarkan semuanya terjadi…. Tidak ada tanda-tanda dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi atau setidaknya mengantisipasi permasalahan sosial ini. Kalaupun ada itu hanya program kerja yang bersifat sementara saja, terkesan sebagai formalitas belaka yang nantinya dapat berguna untuk laporan pertanggung jawaban dipenghujung masa lepas jabatan.

Yang kulihat para pejabat diam, yang kudengar tidak ada suara. Lantas kemana kabarnya wajib belajar 9 tahun ? dan apa kabarnya sekolah gratis dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) ? Padahal kedua program kerja tersebut dibuat untuk anak-anak yang tidak mampu. Lalu realitanya saat ini, kedua kabar tersebut tenggelam begitu saja ditengah hiruk pikuk kesibukan mereka dalam mengisi kekosongan perut. Para pejabat terlalu asik dalam menikmati hidup ini, telalu asik bermain dengan segala bentuk pertimbangan yang memperlambat jalannya suatu keputusan, terlalu asik bermain retorika kata sehingga kata miskin masih merasa malu untuk diakuinya, padahal uang yang mereka pakai adalah hasil dari keringat kerja keras rakyat kecil dalam membayar pajak.

Lalu pada akhirnya sampai kapan anak-anak kecil itu berada dijalanan ? Merengek dan memelas meminta uang dengan segala kondisi dan situasi lalu lintas yang membahayakan jiwa mereka. Belum lagi kerasnya kehidupan jalanan yang menyeret mereka ke arah kriminalitas. Atas nama pribadi aku turut berduka cita akan hal ini, ingin rasanya mengibarkan bendera kuning di depan kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau di depan kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sebagai ungkapan atas matinya kebijakan yang selama ini mereka buat.

Tentunya kita tidak bisa berharap banyak dari standar otak para pejabat itu sendiri karena permasalahan sosial ini sangat memerlukan partisipasi dari masyarakat dan LSM. Dalam menciptakan iklim yang bersahaja bagi anak-anak jalanan. Kepedulian kita adalah sebagai cermin atas nama kebersamaan dan persaudaraan. Mari kita tunjukkan kebenaran sikap kepada anak-anak jalanan yang seharusnya dapat dilakukan oleh para pejabat. Hal ini tidak lebih kita memberi contoh yang baik bagi para pejabat Pemerintah, karna mereka tidak merasa mampu melakukannya.

********

“SELOGAN”


SELOGAN

Dari dulu sampai sekarang banyak orang bilang bahwa Indonesia merupakan Negara yang kaya dan subur serta aman sentosa. Begitu juga banyak para pejabat Pemerintah kita bilang bahwa Indonesia merupakan Negara berkembang. Kita juga tidak lupa bahwa sampai dengan saat ini Indonesia telah 6 kali mengalami pergantian Pemimpin Negara atau seringkali kita sebut Presiden. Tetapi apa yang terjadi sekarang, dari dulu sampai saat ini selogan Indonesia sebagai Negara berkembang terus melekat dihati rakyat. Tentunya hal ini tidak sesuai dengan realita yang ada dan merupakan bentuk pembodohan yang ditunjukkan secara abstrak oleh para pejabat Pemerintahan kita kepada rakyat Indonesia. Pada kenyataannya masih banyak rakyat miskin yang hidup serba kekurangan. Ini merupakan suatu permasalahan dasar yang telah menjadi suatu bukti bahwa Indonesia merupakan Negara miskin.

Hal ini tercermin dari semakin bertambahnya jumlah pengangguran di Indonesia setiap tahun, meningkatnya arus populasi para gelandangan dan pengemis, bertambah banyak anak-anak putus sekolah sehingga melahirkan anak-anak jalanan dan lain sebagainya. Mereka telah menjadi masalah sosial yang harus segera diatasi.

Jika kita perhatikan saat ini, peranan dari Pemerintah Pusat sangat kurang dalam merespon keberadaan mereka. Departemen Sosial selaku instansi Pemerintah yang paling bertanggung jawab pun tidak terdengar suaranya dalam memberikan perhatian khusus kepada para PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial). Pekerjaan mereka mengalir hanya sekedar mengikuti program kerja yang sudah ada sebelumnya. Tidak ada inovasi terbaru dari program kerja yang mereka buat, terkesan hanya sebagai formalitas belaka. Sehingga permasalahan sosial ini menjadi permasalahan regenerasi setiap tahunnya, tidak ada perubahan menuju ke arah lebih baik yang dapat ditunjukkan secara signifikan dari tahun ke tahun.

Dan pada akhirnya tidak terasa sudah berjalan hampir 4 tahun masa bakti Presiden kita ke-6 beserta staf jajarannya, sementara dalam rentan waktu selama hampir 4 tahun itu kita juga tidak merasakan adanya perubahan dalam sektor ekonomi. Rakyat miskin masih terus berteriak tentang kelangkaan minyak tanah dan mahalnya harga sembako, semakin bertambah jumlah pengangguran dan anak-anak yang putus sekolah. Menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tertinggal jauh dihadapan bangsa-bangsa lain.

Inilah realitas yang terjadi di Indonesia, meskipun para pejabat Pemerintah berhasil membumikan selogan Indonesia sebagai Negara berkembang, tetapi keberadaan rakyat miskin tetap menjadi bukti Indonesia sebagai Negara miskin. Sepertinya para pejabat kita lupa dengan apa yang dimaksud Demokrasi yaitu bentuk pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Oleh sebab itu miskin atau tidaknya dari suatu Negara dinilai dari kehidupan ekonomi rakyatnya.

----------xxxxxx---------