Kamis, 18 September 2008

“SEPENGGAL KISAH BURUH”




“SEPENGGAL KISAH BURUH”

Hampir setiap tahun pada tanggal 1 Mei kita memperingatinya sebagai Hari Buruh Internasional. Bukan saja di Indonesia, tetapi diseluruh Negara dibelahan dunia. Ratusan buruh atau bahkan ribuan buruh menggelar aksi demonstrasi baik itu dipusat kota, instansi Pemerintah atau bahkan diperusahaan tempat mereka (buruh) bekerja. Aksi dari demonstrasi para buruh ini pun (khususnya di Indonesia) tidak terlepas dari beberapa tuntutan utama. Yang biasanya tuntutan tersebut berkisar tentang kesejahteraan para buruh (baik itu soal gaji, kesehatan, fasilitas yang diterima) maupun tentang kepastian dari kontrak kerja mereka selama ini. Buruh dapat dikatakan sebagai ujung tombak dari suatu perusahaan, karna maju atau tidaknya tingkat distribusi dari hasil produksi disuatu perusahaan ditentukan oleh kualitas kerja dari buruh. Mereka (buruh) pada umumnya bekerja dipabrik – pabrik distribusi suatu barang. Bekerja dengan cara sistem kontrak dengan jam kerja shift (bergantian), pola hidup seorang buruh dapat dikatakan tidak normal karna memang pada umumnya mereka bekerja tidak selayaknya office hours (jam kerja kantor) yang masuk pagi pulang sore. Terkadang mereka (buruh) malah sebaliknya masuk sore pulang pagi, tetapi ada juga yang masuk pagi pulang sore (tergantung dari scedule shift kerjanya). Belum lagi dihitung dalam waktu seminggu mereka mendapat libur satu hari atau bahkan tidak sama sekali (itu pun dalam selip gaji terkadang tidak terhitung lembur), tidak seperti pada umumnya office hours (jam kerja kantor) yang dalam waktu seminggu mendapat libur dua hari yaitu pada hari sabtu dan minggu.
Memang pada dasarnya kita tidak bisa membandingkan pola kerja buruh dengan pegawai kantoran karna memang begitu sangat berbeda dalam soal diskripsi pekerjaanya (job diskription). Terlepas dari hal tersebut kita bisa membayangkan bahwa kehidupan dari seorang buruh begitu sangat melelahkan belum lagi ditambah dengan segala macam bentuk persoalan seperti, minimnya upah harian, tidak adanya jaminan kesehatan (askes), kontrak kerja yang suatu saat dapat dihentikan atau persoalan tentang gaji bulan ini yang belum dibayar oleh pihak perusahaan.
Buruh merupakan simbolisasi dari kemiskinan suatu Negara. Kenapa tidak ? Hal ini dapat diungkapkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia pada umumnya bekerja sebagai buruh di perusahaan – perusahaan terkemuka (asing) yang melakukan investasi di Negeri ini (Indonesia). Sebut saja contohnya pabrik sepatu (Adidas, Spotec) atau dipabrik elektronik (Sanyo, Mitshubisi, LG) sampai ke pabrik rokok (Putra Sampoerna, Gudang Garam). Sementara itu para penghuni diatas meja kerja dari dalam perusahaan asing itu diisi oleh warga negara asing (mayoritas keturunan Cina / Tionghoa) dalam mengelola dan mendistribusikan dari hasil produksi tersebut. Belum lagi kita mendengar tentang perjalanan buruh kita keluar Negeri (TKI), rela berkorban meninggalkan tanah air tercinta (Indonesia) demi selembar rupiah dalam bentuk dollar. Bukannya kenyamanan kerja yang didapat tetapi malah tindak kekerasan yang didapat dalam bekerja (penganiayaan, pemerkosaan, penipuan, bahkan sampai pada pembunuhan). Meskipun hal ini sudah sering terjadi tapi justru kita (Indonesia) bukannya semakin khawatir akan terjadi persoalan yang sama, yang bisa dihadapi oleh siapa saja. Tetapi kita (Indonesia) semakin gencar mengirimkan ribuan buruh (TKI) dari berbagai pelosok desa setiap tahunnya ke Negara – Negara lain sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Yang “katanya” dengan cara seperti inilah kita (Indonesia) bisa memperkecil volume utang negara (Indonesia), karna memang dengan mengirim buruh (TKI) keluar negeri dapat meningkatkan devisa negara (lagi – lagi dalam hal ini buruh dijadikan sebagai ujung tombak). Maka dari itu tak heran jika keluar suatu semboyan bahwa buruh sebagai pahlawan devisa, nampaknya hal ini tidak terlalu berlebihan jika ditilik dari segi realitas yang ada. Tetapi sangat disayangkan ini hanya sebagai bentuk formalitas kata “hiburan” yang diberikan Pemerintah kepada buruh, karna memang Pemerintah pada dasarnya sangat kurang memperhatikan kinerja dari “para pahlawan devisa negaranya”. Tidak ada penghargaan untuk setiap para buruh dari Pemerintah kita (Indonesia) padahal kemiskinan negara ini (Indonesia) sedikit demi sedikit tertutupi oleh nafas – nafas yang keluar dari keringat para buruh. Dari berbagai berita di media massa seperti surat kabar, radio, televisi memberitakan bahwa semakin banyaknya buruh yang bekerja di luar negeri (TKI) maka itu merupakan suatu bentuk cerminan dari simbolisasi kemiskinan suatu Negara (Indonesia). Memang hal ini sangat menyentuh dihati, tetapi hal ini merupakan suatu bentuk realita yang ada dari peradaban baru suatu Negara (Indonesia) yang secara tidak langsung mengadakan sistem “perbudakan” terhadap warga Negaranya.
Lantas sampai kapan suasana seperti ini terus berlangsung ? Sementara itu nun jauh disana para diplomat kita sibuk membuka kredit baru, melakukan diplomasi utang demi kelangsungan hidup Negara kita (Indonesia) yang dirasa lebih penting ketimbang mengurus kasus pembunuhan seorang buruh (TKI) di Negara lain. Apakah materi telah menutup seluruh sendi organ tubuh mereka (Pemerintah) baik mata, telinga dan suara ? Nasib para buruh yang sering kali tidak pernah dipertanggungjawabkan seakan menambah keyakinan yang tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah Negara Buruh !!! Pengorbanan para buruh yang hanya dihargai oleh kata “prihatin” dan “turut belasungkawa”, apakah mengandung sila kedua dari pancasila (kemanusiaan yang adil dan beradap) ? Dalam hal ini Pemerintah seakan tidak mau ambil pusing (mengurusi para buruh), tapi jika dirasa seperti itu apakah ini suatu bentuk ketidakberdayaan Pemerintah dalam mengatasi persoalan yang dihadapi oleh para buruh ? Jadi wajar saja jika setiap pada tanggal 1 Mei (Hari Buruh Internasional) ribuan buruh tumpah ruah ke jalan menggelar aksi demonstrasi tentang tuntutan agar mendapat kehidupan dan kesejahteraan yang lebih layak bagi mereka (buruh). Tapi apakah ini hanya suatu bentuk emosionalitas sikap yang tertuang dalam formalitas belaka, menyuarakan nada – nada sumbang, yang tetapi pada akhirnya tidak pernah ditanggapi dan disadari oleh Pemerintah. Saya sendiri pun tak mampu menjawab tentang hal itu.
Tulisan ini hanyalah suatu bentuk refleksi mengenai keadaan buruh yang sebenarnya. Ditengah hiruk pikuk kesibukan rutinitas kita sebagai manusia yang beradap, terkadang kita melupakan suatu fenomena sosial yang sedang berlangsung setiap harinya disekitar kita. Meskipun terkesan seperti kisah klasik tapi permasalahan ini tak kunjung tuntas diselesaikan oleh Pemerintah. Percaya atau tidak, ada pepatah yang mengatakan “a word once files everywhere...”

----------xxxxxxxxxx----------

Sabtu, 06 September 2008

"PENJARA GAMBIR"

"PENJARA GAMBIR"

Apa yang dirasa tentang suatu keadaan didalam penjara adalah sebuah tempat yang menyimpan kesunyian dan perenungan hidup. Sebuah tempat yang menampilkan wajah – wajah kegelisahan dan sebuah tempat penebusan dosa. Penjara tidak lebih dari sekedar lembah yang terasa begitu buas dengan suasana yang begitu dingin dari lingkungan sekitar. Penjara merupakan keterbatasan hidup dalam gerak dan bersosialisasi. Waktu yang berlalu didalam penjara seakan mempermainkan jalan hidup seseorang yang terasa begitu panjang. Sebuah kata penantian yang ditunggu untuk bertahan hidup dalam ketidakpastian. Mimpi indah yang teracuni hanya beralaskan lantai, serangan binatang malam tak luput menggerogoti badan. Tawa yang terlihat hanyalah samar dari bentuk penderitaan. Penyesalan yang datang sebagai tamu terakhir seakan membuat hati menangis. Penjara itu begitu kelam, tempat kumpulan orang – orang terbuang.
Penjara atau dipenjara itu sama saja... Hidup disana sama saja mati dalam hidup... Karena penjara adalah hal terkotor yang ada dibumi ini... Sesaat ku mengerti tentang penjara yang terasa begitu kental dihati. Sampai pada waktu memanggil kembali... Penjara yang hidup dalam pikiran ini adalah penjara gambir...

"SABTU SORE DI CAWANG"

"SABTU SORE DI CAWANG"

Sabtu sore didaerah Cawang, Jakarta Timur. Suasana saat itu begitu ramai sekali, bukan karena lalu lalang para pejalan kaki atau hiruk pikuk laju kendaraan pribadi atau umum, tetapi ramai para pedagang kaki 5 yang menghampar mempersiapkan beraneka ragam barang dagangannya. Dalam sekejap saja, Cawang yang seharusnya sebagai tempat para pejalan kaki turun dan naik bis, seolah – olah berhasil disulap menjadi sebuah pasar kecil yang begitu ramai dihuni para pedagang kaki 5. Lokasi yang diisi oleh para pedagang kaki 5 bukan dipinggir jalan saja. Tetapi mereka memenuhi segala sudut trotoar dan persimpangan jalan, memakan ruas jalan raya ditiap sisi demi mewujudkan hasrat yang bernilai rupiah. Aktivitas yang mereka lakukan ini sudah tentu sangat menganggu kenyamanan para pejalan kaki serta menimbulkan ketidaktertiban umum didalam masyarakat.
Fenomena sosial ini tentu saja mencerminkan betapa lemahnya kesadaran hukum yang dimiliki oleh masyarakat, selain itu juga memperlihatkan secara terang – terangan (terbuka) ketidaktegasan didalam mengusung sebuah tata tertib kota. Padahal disekitar daerah tersebut banyak terdapat polisi lalu lintas yang bertugas mengatur lalu lintas kendaraan pribadi ataupun umum. Keberadaan polisi disekitar daerah itu seakan – akan menunjukkan ketidakpeduliannya didalam menjaga ketertiban umum dari para pedagang kaki 5. Memang pada dasarnya ini bukanlah bagian dari tugas dan fungsi polisi, tetapi aparat yang lebih berwenang didalam upaya penegakkan ketertiban umum ini adalah Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja). Tetapi setidaknya para polisi tersebut dapat memberikan peringatan atau ketegasan kepada para pedagang kaki 5 agar tidak berjualan dipinggir jalan. Salah satu contoh konkrit dari salah satu pedagang kaki 5 adalah pedagang vcd yang lokasinya berada dibalik pagar dekat jalan layang. Para pedagang vcd ini secara terbuka menjual vcd porno dan memperlihatkan secara terang – terangan didepan khalayak umum. Kelakuan seperti inilah yang dapat merusak moralitas suatu Bangsa terutama para generasi muda, yang dengan mudahnya segala bentuk pikiran dan sikapnya terkontaminasi oleh suatu keadaan disekitarnya. Begitu banyak polisi yang ada disana, tetapi mengapa mereka semua (polisi) yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, seolah- olah tidak tahu – menahu akan hal ini. Apalagi kalau buka dengan “sesuatu” sang polisi pembela ketertiban umnum ini melakukan suatu gerakan tutup mulut. Dengan begitu sang pedagang vcd porno pun dapat bergerak begitu dinamis.
Dapat dimengerti hal ini merupakan pekerjaan sambilan dari polisi lalu lintas dalam “menjaga ketertiban umum”. Bisa dikatakan polisi yang begitu banyak didaerah Cawang dalam mengatur lalu lintas juga memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam menciptakan kemacetan lalu lintas sesaat didaerah Cawang, yang biasanya diakibatkan oleh bis antar kota yang mengetem (menunggu calon penumpang). Bisa dilihat secara jelas, tanpa malu – malu sang kernet bis menyelipkan “sesuatu” ketangan atau kebalik baju polisi. Agar dapat diizinkan sementara waktu untuk mengetem (menunggu calon penumpang), sementara itu bagi bis – bis yang tidak menyelipkan “sesuatu” akan segera disuruh cepat pergi dengan mengatasnamakan kemacetan lalu lintas. Polisi – polisi yang bertugas mengatur lalu lintas didaerah Cawang tidak ubahnya seperti badut yang sedang melakukan atraksi didalam suatu pertunjukkan yang ditonton oleh banyak orang. Badut yang berperut buncit sama dengan para polisi yang berperut buncit, karena perut polisi yang buncit itu adalah hasil dari permainan keringat rakyat kecil itu sendiri. Betapa memalukannya...
Sampai pada akhirnya suasana Sabtu sore didaerah Cawang masih terlihat begitu ramai, dengan beraneka ragam aktivitas yang ada mencerminkan betapa lemahnya jiwa seorang polisi dan betapa rendahnya moralitas yang dimiliki oleh oknum- oknum polisi tersebut serta betapa bobroknya jika kita mengetahui bahwa ternyata Instansi Kepolisian Republik Indonesia itu sebagian diisi oleh oknum – oknum polisi berperut buncit yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, tetapi malah menjaga ketidaktertiban umum demi “mengisi sesuatu” untuk perut buncitnya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah hal ini sudah mencapai taraf dibawah standarisasi otak para oknum polisi berperut buncit...???


----------XXXXXXXXXX----------