“NONGKRONG DI WARTEG”
Nongkrong di warteg sama nongkrong di restoran tentu sangat jauh berbeda, baik dari segi kualitas makanan yang disajikan, maupun dari segi pelayanan, suasana sampai dengan harga yang ditawarkan. Nongkrong di restoran kita bisa menyantap makanan yang jarang kita temui, dengan beraneka ragam nama yang terkadang sangat sulit sekali kita hapal. Di restoran kita juga akan mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan dari para waiters yang begitu sopan dan murah senyum. Tentunya hal ini juga didukung oleh suasana yang cukup nyaman, sambil menyantap hidangan yang telah disediakan kita bisa mendengarkan suara alunan musik yang terkadang membuat suasana menjadi semakin romantis dan menyenangkan. Yang pastinya itu semua harus dibayar dengan harga yang telah disesuaikan oleh fasilitas dan kemewahan yang telah disajikan. Rata – rata kebanyakan orang yang nongkrong di restoran ini adalah kaum menengah ke atas atau lebih tepatnya termasuk ke dalam golongan manusia elite yang bebal alias berkantong tebal. Suasana yang nyaman dan terkesan romantis ini terkadang selalu dijadikan landasan untuk melakukan pembicaraan – pembicaraan yang bersifat formal seperti mengundang relasi atau rekan bisnis untuk membahas tentang proyek terbaru dari perusahaan atau sampai pada pembicaraan seputar hubungan percintaan sepasang kekasih yang tidak jelas mau dibawa ke arah mana.
Lain halnya ketika pada saat nongkrong di warteg, kita akan menjumpai menu asli Indonesia yaitu tahu dan tempe, tidak ketinggalan sambel terasi serta goreng – gorengan yang ada. Nongkrong di warteg juga bisa mendapatkan pelayanan yang baik asal tidak melakukan kasbon atau dengan bahasa bekennya ngutang, yang bisa membuat pemilik warteg jadi uring – uringan ketika melayani. Suasana yang didapat pun sangat berbeda karena berbaur dengan tukang ojek, tukang becak dan buruh, sehingga pada saat menyantap makanan seringkali tercium aroma badan yang kurang sedap. Panas dan gerah itulah keadaannya karena beratapkan seng yang dapat menghantarkan panas dari sengatan matahari. Harganya pun cukup terjangkau, sangking terjangkaunya banyak pelanggan yang melakukan kasbon karena merasa sanggup membayar dikemudian hari.
Selain itu pada saat nongkrong di warteg jarang sekali kita mendengar bisik – bisik dari tetangga sebelah yang berbicara mengenai masalah percintaan atau bisnis perusahaan. Yang ada malah sebaliknya terdengar nada – nada sumbang berbalut keluhan mengenai pekerjaan atau urusan rumah tangga seperti “kenapa ya kontrak kerja gue gak diperpanjang...???” atau seperti ini “waduh bini gue dirumah uring – uringan mulu gara – gara kagak gue kasih uang belanja” sampai dengan pembicaraan lepas atau seringkali disebut ngobrol ngalor ngidul mengenai menang kalah taruhan pertandingan sepak bola semalam atau menanggapi soal kenaikan harga BBM sampai – sampai pembicaraan mengenai nomer togel yang kira – kira akan keluar. Bahkan terkadang ada pembahasan mengenai perang yang tengah berkecamuk antar negara yang buntut – buntutnya mengarah pada pertanyaan siapa penemu bom atom....???
Menarik sekali jika ditelusuri, dan ternyata warteg telah menjadi suatu bentuk aktivitas dimana kaum menengah ke bawah selalu mendatanginya sebagai tempat bersandar melepas lelah atau sekedar ngeceng sambil ngopi. Secara tidak langsung warteg juga sebagai tempat berkeluh kesah tentang susahnya mencukupi kebutuhan hidup pada saat ini. Di sisi lain warteg juga bisa sebagai tempat yang menyenangkan untuk mencari lawan bermain catur atau sebagai tempat transaksi jual beli nomer togel. Tanpa disadari seakan – akan warteg menjadi saksi tentang keceriaan dan kesedihan rakyat miskin. Hal inilah sangat membedakan ketika kita nongkrong di warteg dengan nongkrong di restoran, tergantung selera dan isi kantong kita untuk memilih nongkrong dimana, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan serta menjadi ciri khas tersendiri.
--------xxxxxxxxxxxx--------
