Jumat, 04 Juli 2008

“NONGKRONG DI WARTEG”

“NONGKRONG DI WARTEG”

Nongkrong di warteg sama nongkrong di restoran tentu sangat jauh berbeda, baik dari segi kualitas makanan yang disajikan, maupun dari segi pelayanan, suasana sampai dengan harga yang ditawarkan. Nongkrong di restoran kita bisa menyantap makanan yang jarang kita temui, dengan beraneka ragam nama yang terkadang sangat sulit sekali kita hapal. Di restoran kita juga akan mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan dari para waiters yang begitu sopan dan murah senyum. Tentunya hal ini juga didukung oleh suasana yang cukup nyaman, sambil menyantap hidangan yang telah disediakan kita bisa mendengarkan suara alunan musik yang terkadang membuat suasana menjadi semakin romantis dan menyenangkan. Yang pastinya itu semua harus dibayar dengan harga yang telah disesuaikan oleh fasilitas dan kemewahan yang telah disajikan. Rata – rata kebanyakan orang yang nongkrong di restoran ini adalah kaum menengah ke atas atau lebih tepatnya termasuk ke dalam golongan manusia elite yang bebal alias berkantong tebal. Suasana yang nyaman dan terkesan romantis ini terkadang selalu dijadikan landasan untuk melakukan pembicaraan – pembicaraan yang bersifat formal seperti mengundang relasi atau rekan bisnis untuk membahas tentang proyek terbaru dari perusahaan atau sampai pada pembicaraan seputar hubungan percintaan sepasang kekasih yang tidak jelas mau dibawa ke arah mana.

Lain halnya ketika pada saat nongkrong di warteg, kita akan menjumpai menu asli Indonesia yaitu tahu dan tempe, tidak ketinggalan sambel terasi serta goreng – gorengan yang ada. Nongkrong di warteg juga bisa mendapatkan pelayanan yang baik asal tidak melakukan kasbon atau dengan bahasa bekennya ngutang, yang bisa membuat pemilik warteg jadi uring – uringan ketika melayani. Suasana yang didapat pun sangat berbeda karena berbaur dengan tukang ojek, tukang becak dan buruh, sehingga pada saat menyantap makanan seringkali tercium aroma badan yang kurang sedap. Panas dan gerah itulah keadaannya karena beratapkan seng yang dapat menghantarkan panas dari sengatan matahari. Harganya pun cukup terjangkau, sangking terjangkaunya banyak pelanggan yang melakukan kasbon karena merasa sanggup membayar dikemudian hari. Selain itu pada saat nongkrong di warteg jarang sekali kita mendengar bisik – bisik dari tetangga sebelah yang berbicara mengenai masalah percintaan atau bisnis perusahaan. Yang ada malah sebaliknya terdengar nada – nada sumbang berbalut keluhan mengenai pekerjaan atau urusan rumah tangga seperti “kenapa ya kontrak kerja gue gak diperpanjang...???” atau seperti ini “waduh bini gue dirumah uring – uringan mulu gara – gara kagak gue kasih uang belanja” sampai dengan pembicaraan lepas atau seringkali disebut ngobrol ngalor ngidul mengenai menang kalah taruhan pertandingan sepak bola semalam atau menanggapi soal kenaikan harga BBM sampai – sampai pembicaraan mengenai nomer togel yang kira – kira akan keluar. Bahkan terkadang ada pembahasan mengenai perang yang tengah berkecamuk antar negara yang buntut – buntutnya mengarah pada pertanyaan siapa penemu bom atom....???

Menarik sekali jika ditelusuri, dan ternyata warteg telah menjadi suatu bentuk aktivitas dimana kaum menengah ke bawah selalu mendatanginya sebagai tempat bersandar melepas lelah atau sekedar ngeceng sambil ngopi. Secara tidak langsung warteg juga sebagai tempat berkeluh kesah tentang susahnya mencukupi kebutuhan hidup pada saat ini. Di sisi lain warteg juga bisa sebagai tempat yang menyenangkan untuk mencari lawan bermain catur atau sebagai tempat transaksi jual beli nomer togel. Tanpa disadari seakan – akan warteg menjadi saksi tentang keceriaan dan kesedihan rakyat miskin. Hal inilah sangat membedakan ketika kita nongkrong di warteg dengan nongkrong di restoran, tergantung selera dan isi kantong kita untuk memilih nongkrong dimana, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan serta menjadi ciri khas tersendiri.

--------xxxxxxxxxxxx--------

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

Ketika suara – suara demokrasi tidak lagi didengar, ketika para pejabat Pemerintah terlalu lama bermain dengan pertimbangan dan ketika pada saatnya suatu bentuk perubahan memakan korban. Maka yang akan terjadi selanjutnya adalah chaos (kerusuhan). Hal ini bisa dikatakan sebagai hukum alam yang dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Seperti yang terjadi pada saat ini, Dampak dari kenaikan harga BBM dan insiden berdarah di UNAS telah memicu adanya aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung didalam Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) untuk melakukan aksi unjuk rasa didepan Gedung DPR/MPR pada hari Selasa (24/6) kemarin. Pada aksi demonstrasi kali ini mahasiswa lebih bersifat anarkis dengan melakukan pemblokiran di jalan-jalan protokol seperti Jalan H.R. Rasuna Said, Jalan Gatot Subroto, serta pada sore harinya di Jalan Sudirman dikawasan Semanggi. Aksi anarkis mahasiswa tidak hanya dengan melakukan pemblokiran jalan, tetapi mahasiswa juga melakukan aksi pengerusakan mobil polisi dan pintu pagar Gedung DPR/MPR. Selain itu mahasiswa juga melakukan aksi pembakaran mobil dinas berplat merah yang diduga mobil tersebut milik Pemerintah.

Mencermati fenomena yang terjadi pada saat ini, aksi demonstrasi mahasiswa yang cenderung bersifat anarkis, lebih terlihat mengedepankan perasaan emosi ketimbang sisi intelektualitas yang ada. Sehingga penyampaian aspirasi masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa tidak lagi terlihat sebagai perjuangan rakyat yang murni tetapi sebagai perjuangan rakyat yang telah dikotori dan terkesan ditunggangi oleh sekelompok kepentingan yang ada. Seharusnya mahasiswa bisa menempatkan diri dan merapatkan barisan didalam menyelesaikan dan menanggapi persoalan kenaikan BBM dan insiden berdarah di UNAS, bukan dengan jalan kekerasan dan kerusuhan. Logikanya jika tuntutan dari mahasiswa ini dipenuhi oleh Pemerintah, pasti akan menguntungkan rakyat. Tetapi jika sebaliknya Pemerintah lebih bersikap pasif dan tidak memenuhi tuntutan dari mahasiswa pasti akan merugikan rakyat, karna apa ? tidak lain karna aksi anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa. Mengakibatkan terjadinya kemacetan lalu lintas, masyarakat sipil yang tidak tahu menahu tentang aksi demonstrasi ini tertangkap oleh aparat kepolisian, terjadinya bentrokan antara aparat dengan mahasiswa yang melukai sebagian dari masyarakat sipil. Apakah ini yang dinamakan suatu bentuk pengorbanan jika menginginkan adanya suatu perubahan…??? Tidak…!!! bukan seperti ini yang dinamakan pengorbanan yang pada akhirnya menyengsarakan masyarakat sipil juga. Masyarakat mempercayai mahasiswa sebagai pembawa amanah dan aspirasi masyarakat, seharusnya hal ini dapat dipegang teguh dan dijalankan oleh mahasiswa dengan sebaik mungkin. Mengutamakan intelektualitas dan kecerdasan yang ada dengan jalan perundingan yang dilakukan oleh sebagian dari perwakilan mahasiswa dengan anggota komisi DPR/MPR yang mewadahi dari permasalahan itu sendiri. Duduk bersama membahas permasalahan dan mencari jalan keluarnya untuk kepentingan bersama. Dengan cara seperti itu mahasiswa akan terlihat lebih dewasa, bukankah sedari dulu mahasiswa sebagai agent of change atas Negeri ini. Hendaknya hal itu disadari dengan bersifat diplomatis dan bijak dalam menyingkapi permasalahan yang ada.

Nampaknya kita juga harus tahu fungsi dasar dari keberadaan mahasiswa ini adalah sebagai kontrol terhadap kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, sah – sah saja jika mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa jikalau kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah itu tidak berpihak dan terlalu merugikan rakyat karna memang pada dasarnya mahasiswa sebagai wadah yang menjembatani antara kepentingan Pemerintah dengan kepentingan rakyat. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah unjuk rasa dengan cara seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk bisa mendapatkan simpati dari rakyat…??? Dengan cara kekerasan ataukah dengan cara tertib dan damai…???

Kita mungkin hanya bisa tersenyum ketika melihat aksi kekerasan dalam unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa kemarin atau bahkan sebagian dari kita hanya dapat mampu mencibir melihat fenomena itu terjadi atau yang lebih parahnya lagi mungkin sebagian dari kita mengambil sikap tidak peduli. Tetapi itulah demokrasi kita bebas untuk mengekspresikan diri. Karna memang mulai saat ini sayup – sayup terdengar suara demokrasi seakan tidak berfungsi jika kekerasan menjadi landasan.

--------xxxxxxxxxxxx--------

“AKU”

“AKU”

Aku ingin menjadi lampu yang sinarnya memancarkan ke segala penjuru memberikan arti bagi babak baru dari sebuah kehidupan. Aku ingin menjadi mata air alami yang dibutuhkan oleh umat manusia demi kelangsungan hidupnya. Aku ingin menjadi gubuk tua sebagai tempat bersandarnya fajar penderitaan disaat bunga kebahagiaan tidak terbit. Aku ingin menjadi pohon besar yang memberikan keteduhan bagi jiwa yang dilanda kecemasan dan roh – roh yang mengitari rasa ketakutan. Aku ingin menjadi malam yang selalu menentramkan serta mendamaikan suasana hati dari kesedihan lalu merangkulnya ke alam mimpi. Aku ingin menjadi kepastian yang menghadirkan kenyataan setelah harapan pergi. Dan aku ingin menjadi suatu maha karya yang senantiasa mengorbitkan inspirasi dan imajinasi untuk para penyair dan pujangga disaat standart otak merajai saraf pengetahuan. Untuk terakhir kalinya aku berkeinginan menjadi taman surga yang melimpahkan kebahagiaan, kekayaan, kesenangan, kemudahan, kepastian untuk para penghuni bumi.

--------xxxxxxxxxxxx--------