Jumat, 04 Juli 2008

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

Ketika suara – suara demokrasi tidak lagi didengar, ketika para pejabat Pemerintah terlalu lama bermain dengan pertimbangan dan ketika pada saatnya suatu bentuk perubahan memakan korban. Maka yang akan terjadi selanjutnya adalah chaos (kerusuhan). Hal ini bisa dikatakan sebagai hukum alam yang dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Seperti yang terjadi pada saat ini, Dampak dari kenaikan harga BBM dan insiden berdarah di UNAS telah memicu adanya aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung didalam Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) untuk melakukan aksi unjuk rasa didepan Gedung DPR/MPR pada hari Selasa (24/6) kemarin. Pada aksi demonstrasi kali ini mahasiswa lebih bersifat anarkis dengan melakukan pemblokiran di jalan-jalan protokol seperti Jalan H.R. Rasuna Said, Jalan Gatot Subroto, serta pada sore harinya di Jalan Sudirman dikawasan Semanggi. Aksi anarkis mahasiswa tidak hanya dengan melakukan pemblokiran jalan, tetapi mahasiswa juga melakukan aksi pengerusakan mobil polisi dan pintu pagar Gedung DPR/MPR. Selain itu mahasiswa juga melakukan aksi pembakaran mobil dinas berplat merah yang diduga mobil tersebut milik Pemerintah.

Mencermati fenomena yang terjadi pada saat ini, aksi demonstrasi mahasiswa yang cenderung bersifat anarkis, lebih terlihat mengedepankan perasaan emosi ketimbang sisi intelektualitas yang ada. Sehingga penyampaian aspirasi masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa tidak lagi terlihat sebagai perjuangan rakyat yang murni tetapi sebagai perjuangan rakyat yang telah dikotori dan terkesan ditunggangi oleh sekelompok kepentingan yang ada. Seharusnya mahasiswa bisa menempatkan diri dan merapatkan barisan didalam menyelesaikan dan menanggapi persoalan kenaikan BBM dan insiden berdarah di UNAS, bukan dengan jalan kekerasan dan kerusuhan. Logikanya jika tuntutan dari mahasiswa ini dipenuhi oleh Pemerintah, pasti akan menguntungkan rakyat. Tetapi jika sebaliknya Pemerintah lebih bersikap pasif dan tidak memenuhi tuntutan dari mahasiswa pasti akan merugikan rakyat, karna apa ? tidak lain karna aksi anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa. Mengakibatkan terjadinya kemacetan lalu lintas, masyarakat sipil yang tidak tahu menahu tentang aksi demonstrasi ini tertangkap oleh aparat kepolisian, terjadinya bentrokan antara aparat dengan mahasiswa yang melukai sebagian dari masyarakat sipil. Apakah ini yang dinamakan suatu bentuk pengorbanan jika menginginkan adanya suatu perubahan…??? Tidak…!!! bukan seperti ini yang dinamakan pengorbanan yang pada akhirnya menyengsarakan masyarakat sipil juga. Masyarakat mempercayai mahasiswa sebagai pembawa amanah dan aspirasi masyarakat, seharusnya hal ini dapat dipegang teguh dan dijalankan oleh mahasiswa dengan sebaik mungkin. Mengutamakan intelektualitas dan kecerdasan yang ada dengan jalan perundingan yang dilakukan oleh sebagian dari perwakilan mahasiswa dengan anggota komisi DPR/MPR yang mewadahi dari permasalahan itu sendiri. Duduk bersama membahas permasalahan dan mencari jalan keluarnya untuk kepentingan bersama. Dengan cara seperti itu mahasiswa akan terlihat lebih dewasa, bukankah sedari dulu mahasiswa sebagai agent of change atas Negeri ini. Hendaknya hal itu disadari dengan bersifat diplomatis dan bijak dalam menyingkapi permasalahan yang ada.

Nampaknya kita juga harus tahu fungsi dasar dari keberadaan mahasiswa ini adalah sebagai kontrol terhadap kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, sah – sah saja jika mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa jikalau kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah itu tidak berpihak dan terlalu merugikan rakyat karna memang pada dasarnya mahasiswa sebagai wadah yang menjembatani antara kepentingan Pemerintah dengan kepentingan rakyat. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah unjuk rasa dengan cara seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk bisa mendapatkan simpati dari rakyat…??? Dengan cara kekerasan ataukah dengan cara tertib dan damai…???

Kita mungkin hanya bisa tersenyum ketika melihat aksi kekerasan dalam unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa kemarin atau bahkan sebagian dari kita hanya dapat mampu mencibir melihat fenomena itu terjadi atau yang lebih parahnya lagi mungkin sebagian dari kita mengambil sikap tidak peduli. Tetapi itulah demokrasi kita bebas untuk mengekspresikan diri. Karna memang mulai saat ini sayup – sayup terdengar suara demokrasi seakan tidak berfungsi jika kekerasan menjadi landasan.

--------xxxxxxxxxxxx--------

Tidak ada komentar: