
“ SEKEDAR SAPA JAKARTA… ”
Jakarta memang konyol,,,, tapi aku tidak bisa menyalahkannya begitu saja. Aku melihat dan merasakan tentang fenomena sosial yang terjadi didalamnya. Sebuah realita yang sesungguhnya menarik perhatianku untuk menyaksikan drama kehidupan manusia, menampilkan setiap adegan yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu alur cerita tentang kemiskinan. Jakarta yang memiliki peran besar sebagai Ibukota Negara telah memiliki dampak negatif bagi para penduduknya. Hal ini sangat dirasakan ketika program kerja dibidang kesejahteraan rakyat tidak berjalan secara menyeluruh dan tidak merata mencangkup segala unsur golongan penduduknya, melahirkan sejumlah persoalan yang ada seperti jumlah pengangguran yang semakin meningkat setiap tahunnya, ditambah lagi dengan kebutuhan hidup yang semakin sulit terjangkau oleh kelas menengah kebawah. Melahirkan beragam profesi yang harus dijalani demi mempertahankan hidup.
Yang menarik perhatianku…. Profesi ini tidak hanya dijalani oleh kaum tua dan muda, tetapi anak-anak kecil juga memiliki peran didalamnya. Ada yang menjadi tukang semir, tukang koran, pengamen kecil, sampai-sampai menjadi seorang pengemis kecil. Sudah lama fenomena sosial ini terjadi sehingga melahirkan apa yang dinamakan dengan masalah sosial. Karena hal ini sudah menyangkut eksploitasi anak dengan cara memperkerjakan atau sengaja membiarkan anak kecil mencari uang dibawah umur. Seharusnya mereka para pewaris bangsa duduk manis di sekolah menikmati jenjang pendidikan dan bermain sebagaimana lazimnya anak-anak kecil yang biasa, tapi bukan untuk dijalanan.
Apakah sebegitu kejamnya lingkaran setan ekonomi…??? Membiarkan semuanya terjadi…. Tidak ada tanda-tanda dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi atau setidaknya mengantisipasi permasalahan sosial ini. Kalaupun ada itu hanya program kerja yang bersifat sementara saja, terkesan sebagai formalitas belaka yang nantinya dapat berguna untuk laporan pertanggung jawaban dipenghujung masa lepas jabatan.
Yang kulihat para pejabat diam, yang kudengar tidak ada suara. Lantas kemana kabarnya wajib belajar 9 tahun ? dan apa kabarnya sekolah gratis dari dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) ? Padahal kedua program kerja tersebut dibuat untuk anak-anak yang tidak mampu. Lalu realitanya saat ini,
kedua kabar tersebut tenggelam begitu saja ditengah hiruk pikuk kesibukan mereka dalam mengisi kekosongan perut. Para pejabat terlalu asik dalam menikmati hidup ini, telalu asik bermain dengan segala bentuk pertimbangan yang memperlambat jalannya suatu keputusan, terlalu asik bermain retorika kata sehingga kata miskin masih merasa malu untuk diakuinya, padahal uang yang mereka pakai adalah hasil dari keringat kerja keras rakyat kecil dalam membayar pajak.
Lalu pada akhirnya sampai kapan anak-anak kecil itu berada dijalanan ? Merengek dan memelas meminta uang dengan segala kondisi dan situasi lalu lintas yang membahayakan jiwa mereka. Belum lagi kerasnya kehidupan jalanan yang menyeret mereka ke arah kriminalitas. Atas nama pribadi aku turut berduka cita akan hal ini, ingin rasanya mengibarkan bendera kuning di depan kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau di depan kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sebagai ungkapan atas matinya kebijakan yang selama ini mereka buat.
Tentunya kita tidak bisa berharap banyak dari standar otak para pejabat itu sendiri karena permasalahan sosial ini sangat memerlukan partisipasi dari masyarakat dan LSM. Dalam menciptakan iklim yang bersahaja bagi anak-anak jalanan. Kepedulian kita adalah sebagai cermin atas nama kebersamaan dan persaudaraan. Mari kita tunjukkan kebenaran sikap kepada anak-anak jalanan yang seharusnya dapat dilakukan oleh para pejabat. Hal ini tidak lebih kita memberi contoh yang baik bagi para pejabat Pemerintah, karna mereka tidak merasa mampu melakukannya.
********