Kamis, 29 Mei 2008

“WUALAH……BANJIR LAGI……”

“WUALAH……BANJIR LAGI……”

Ini pertama kalinya aku menyaksikan gejala sosial yang timbul di Jakarta, setelah aku kembali dari Bengkulu. Jakarta banjir pada Jum’at 1 Februari 2008. Sepulang kerja sore itu aku nyaris terjebak oleh air yang tidak kenal kompromi. Jakarta terserang banjir untuk beberapa wilayah yakni di Jakarta Utara, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Banyak orang mengeluh dan berkomentar tentang Ibukota Negara yang terancam tenggelam oleh air ini. Ribut sana sini mengenai teriakan banjir oleh masyarakat sekitar membisingkan telingaku. Para pengungsi yang termasuk kedalam golongan warga miskin ini pun berjalan beriringan ditengah arus air yang tenang.

Hampir setiap tahun Jakarta dilanda banjir dan hampir setiap tahun pula mereka berkelekar tentang banjir. Tapi apakah mereka semua para elite politik, pejabat Pemerintah, pengusaha dan rakyat miskin menyadari bahwa teriakan mereka sama sekali tidak seimbang dengan prilaku mereka selama ini. Tangan-tangan mereka yang bergerak membuang sampah sembarangan mengakibatkan selokan, sungai, kali bahkan laut pun menjadi penghuni sampah yang menghambat jalannya air. Jika dihitung oleh umur mereka semua, sudah berapa kalikah mereka membuang sampah sembarangan. Itu hanya hitungan tahun bagaimana setiap harinya, lalu dikalikan lagi dengan jumlah penduduk Jakarta dan Sekitarnya. Wualah…Menyedihkan sekali nasib ikon Negara Republik Indonesia tercinta ini. Jadi wajar saja jika Jakarta menumpahkan airmata kesedihannya.

Alangkah indahnya bagi mereka semua yang menyadari bahwa ini adalah bagian dari ulah para penghuni Jakarta itu sendiri. Banjir datang tak kenal kompromi sama seperti para manusia yang tak kenal kompromi ketika membuang sampah sembarangan.

-----xxxxxxxxxxxx-----

Tidak ada komentar: