Sabtu, 25 Oktober 2008

“KRISIS BIMBANG”

“KRISIS BIMBANG”

Dewasa ini para pemuda Indonesia tengah mengalami krisis bimbang dalam kehidupannya. Mengapa ? Karna pada dasarnya orientasi yang dimiliki oleh para pemuda adalah mencari lapangan pekerjaan. Ditengah - tengah himpitan ekonomi yang semakin merajalela menimbulkan dampak adanya keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Atas dasar itulah para pemuda berusaha mencari lapangan pekerjaan. Ditengah suasana padatnya jumlah populasi pengangguran yang semakin meningkat setiap tahunnya di Indonesia, para pemuda mencoba melawan arus keadaan dengan melakukan persaingan secara sehat demi mewujudkan dasar orientasi dari mimpinya tersebut. Adanya persaingan antar pemuda tersebut dikarenakan sangat terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia baik dari pihak swasta ataupun dari Instansi Pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara banyaknya jumlah pengangguran dengan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia, sehingga melahirkan gejolak psikologis dalam diri para pemuda yang disebut krisis bimbang.
Tidak sampai disitu saja krisis bimbang ini masih terus menghantui jiwa para pemuda yang notabene belum mendapatkan pekerjaan. Seiring perjalanan waktu para pemuda terus bertanya - tanya dalam dirinya tentang prospek cerah mengenai karir dari pekerjaannya diwaktu mendatang atau tentang status para pemuda yang belum menggondol gelar karyawan tetap, karna untuk sementara ini masih menjadi karyawan kontrak. Meskipun dapat dikatakan bahwa sebagian besar para pemuda terlibat didalam perusahaan – perusahaan besar yang mayoritas memiliki “nama” serta bekerja secara elegan (berpenampilan seperti orang kantoran), namun sebagian dari para pemuda belumlah menjadi karyawan tetap didalamnya dan masih terikat sebagai karyawan kontrak yang tanpa disadari mau atau tidak mau para pemuda secara langsung atau tidak langsung dipaksa secara terpaksa untuk terlibat ke dalam outsourcing (perusahaan jasa pencari kerja).
Perlu diketahui sebelumnya outsourcing ini merupakan suatu proses bentuk pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Dapat juga dikatakan outsourcing ini sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya, tetapi pada realitasnya outsourcing ini cenderung didominasi oleh “keserakahan” sebuah perusahaan untuk bisa menekan biaya serendah – rendahnya dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan setinggi – tingginya. Hal inilah yang tanpa disadari telah melanggar etika bisnis. Sementara disisi lain outsourcing secara langsung telah mengurangi sebagian besar hak – hak dari karyawan yang seharusnya bisa menjadi karyawan tetap dan outsourcing itu sendiri menutup semua kesempatan karyawan untuk menjadi tetap. Sehingga melahirkan dampak rawan secara sosial (kecemburuan antar rekan kerja) juga rawan secara pragmatis (kepastian kerja, kelanjutan kontrak, jaminan pensiun).
Persoalan inilah yang menjadi dasar lahirnya krisis bimbang dalam diri para pemuda, disamping persoalan sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Dalam menanggapi persoalan outsourcing ini pergerakan para pemuda ada diantara dua pilihan yaitu melawan arus keadaan atau berdamai dengan keadaan. Bagi para pemuda yang masih memiliki pengharapan sebuah masa depan yang cerah, tentunya ia akan melawan arus keadaan, melawan outsourcing yang merupakan bentuk dari penjelmaan kapitalis dengan intelektualitas yang dimilikinya. Tetapi bagi para pemuda yang tidak ingin mengambil resiko dan memiliki sifat cair seperti es, ia akan berdamai dengan keadaan menjadi budak kapitalis sejati yang senantiasa bermake up tebal agar selalu terlihat manis.
Yang pada akhirnya artikel ini ditulis sebagai bentuk pencerahan dalam menyimak segi realitas yang terpendam. Mencoba mewakili bahasa hati para pemuda yang senantiasa dihantui oleh krisis bimbang dalam dirinya.

---------------xxxxxxxxxx---------------

Kamis, 18 September 2008

“SEPENGGAL KISAH BURUH”




“SEPENGGAL KISAH BURUH”

Hampir setiap tahun pada tanggal 1 Mei kita memperingatinya sebagai Hari Buruh Internasional. Bukan saja di Indonesia, tetapi diseluruh Negara dibelahan dunia. Ratusan buruh atau bahkan ribuan buruh menggelar aksi demonstrasi baik itu dipusat kota, instansi Pemerintah atau bahkan diperusahaan tempat mereka (buruh) bekerja. Aksi dari demonstrasi para buruh ini pun (khususnya di Indonesia) tidak terlepas dari beberapa tuntutan utama. Yang biasanya tuntutan tersebut berkisar tentang kesejahteraan para buruh (baik itu soal gaji, kesehatan, fasilitas yang diterima) maupun tentang kepastian dari kontrak kerja mereka selama ini. Buruh dapat dikatakan sebagai ujung tombak dari suatu perusahaan, karna maju atau tidaknya tingkat distribusi dari hasil produksi disuatu perusahaan ditentukan oleh kualitas kerja dari buruh. Mereka (buruh) pada umumnya bekerja dipabrik – pabrik distribusi suatu barang. Bekerja dengan cara sistem kontrak dengan jam kerja shift (bergantian), pola hidup seorang buruh dapat dikatakan tidak normal karna memang pada umumnya mereka bekerja tidak selayaknya office hours (jam kerja kantor) yang masuk pagi pulang sore. Terkadang mereka (buruh) malah sebaliknya masuk sore pulang pagi, tetapi ada juga yang masuk pagi pulang sore (tergantung dari scedule shift kerjanya). Belum lagi dihitung dalam waktu seminggu mereka mendapat libur satu hari atau bahkan tidak sama sekali (itu pun dalam selip gaji terkadang tidak terhitung lembur), tidak seperti pada umumnya office hours (jam kerja kantor) yang dalam waktu seminggu mendapat libur dua hari yaitu pada hari sabtu dan minggu.
Memang pada dasarnya kita tidak bisa membandingkan pola kerja buruh dengan pegawai kantoran karna memang begitu sangat berbeda dalam soal diskripsi pekerjaanya (job diskription). Terlepas dari hal tersebut kita bisa membayangkan bahwa kehidupan dari seorang buruh begitu sangat melelahkan belum lagi ditambah dengan segala macam bentuk persoalan seperti, minimnya upah harian, tidak adanya jaminan kesehatan (askes), kontrak kerja yang suatu saat dapat dihentikan atau persoalan tentang gaji bulan ini yang belum dibayar oleh pihak perusahaan.
Buruh merupakan simbolisasi dari kemiskinan suatu Negara. Kenapa tidak ? Hal ini dapat diungkapkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia pada umumnya bekerja sebagai buruh di perusahaan – perusahaan terkemuka (asing) yang melakukan investasi di Negeri ini (Indonesia). Sebut saja contohnya pabrik sepatu (Adidas, Spotec) atau dipabrik elektronik (Sanyo, Mitshubisi, LG) sampai ke pabrik rokok (Putra Sampoerna, Gudang Garam). Sementara itu para penghuni diatas meja kerja dari dalam perusahaan asing itu diisi oleh warga negara asing (mayoritas keturunan Cina / Tionghoa) dalam mengelola dan mendistribusikan dari hasil produksi tersebut. Belum lagi kita mendengar tentang perjalanan buruh kita keluar Negeri (TKI), rela berkorban meninggalkan tanah air tercinta (Indonesia) demi selembar rupiah dalam bentuk dollar. Bukannya kenyamanan kerja yang didapat tetapi malah tindak kekerasan yang didapat dalam bekerja (penganiayaan, pemerkosaan, penipuan, bahkan sampai pada pembunuhan). Meskipun hal ini sudah sering terjadi tapi justru kita (Indonesia) bukannya semakin khawatir akan terjadi persoalan yang sama, yang bisa dihadapi oleh siapa saja. Tetapi kita (Indonesia) semakin gencar mengirimkan ribuan buruh (TKI) dari berbagai pelosok desa setiap tahunnya ke Negara – Negara lain sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Yang “katanya” dengan cara seperti inilah kita (Indonesia) bisa memperkecil volume utang negara (Indonesia), karna memang dengan mengirim buruh (TKI) keluar negeri dapat meningkatkan devisa negara (lagi – lagi dalam hal ini buruh dijadikan sebagai ujung tombak). Maka dari itu tak heran jika keluar suatu semboyan bahwa buruh sebagai pahlawan devisa, nampaknya hal ini tidak terlalu berlebihan jika ditilik dari segi realitas yang ada. Tetapi sangat disayangkan ini hanya sebagai bentuk formalitas kata “hiburan” yang diberikan Pemerintah kepada buruh, karna memang Pemerintah pada dasarnya sangat kurang memperhatikan kinerja dari “para pahlawan devisa negaranya”. Tidak ada penghargaan untuk setiap para buruh dari Pemerintah kita (Indonesia) padahal kemiskinan negara ini (Indonesia) sedikit demi sedikit tertutupi oleh nafas – nafas yang keluar dari keringat para buruh. Dari berbagai berita di media massa seperti surat kabar, radio, televisi memberitakan bahwa semakin banyaknya buruh yang bekerja di luar negeri (TKI) maka itu merupakan suatu bentuk cerminan dari simbolisasi kemiskinan suatu Negara (Indonesia). Memang hal ini sangat menyentuh dihati, tetapi hal ini merupakan suatu bentuk realita yang ada dari peradaban baru suatu Negara (Indonesia) yang secara tidak langsung mengadakan sistem “perbudakan” terhadap warga Negaranya.
Lantas sampai kapan suasana seperti ini terus berlangsung ? Sementara itu nun jauh disana para diplomat kita sibuk membuka kredit baru, melakukan diplomasi utang demi kelangsungan hidup Negara kita (Indonesia) yang dirasa lebih penting ketimbang mengurus kasus pembunuhan seorang buruh (TKI) di Negara lain. Apakah materi telah menutup seluruh sendi organ tubuh mereka (Pemerintah) baik mata, telinga dan suara ? Nasib para buruh yang sering kali tidak pernah dipertanggungjawabkan seakan menambah keyakinan yang tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah Negara Buruh !!! Pengorbanan para buruh yang hanya dihargai oleh kata “prihatin” dan “turut belasungkawa”, apakah mengandung sila kedua dari pancasila (kemanusiaan yang adil dan beradap) ? Dalam hal ini Pemerintah seakan tidak mau ambil pusing (mengurusi para buruh), tapi jika dirasa seperti itu apakah ini suatu bentuk ketidakberdayaan Pemerintah dalam mengatasi persoalan yang dihadapi oleh para buruh ? Jadi wajar saja jika setiap pada tanggal 1 Mei (Hari Buruh Internasional) ribuan buruh tumpah ruah ke jalan menggelar aksi demonstrasi tentang tuntutan agar mendapat kehidupan dan kesejahteraan yang lebih layak bagi mereka (buruh). Tapi apakah ini hanya suatu bentuk emosionalitas sikap yang tertuang dalam formalitas belaka, menyuarakan nada – nada sumbang, yang tetapi pada akhirnya tidak pernah ditanggapi dan disadari oleh Pemerintah. Saya sendiri pun tak mampu menjawab tentang hal itu.
Tulisan ini hanyalah suatu bentuk refleksi mengenai keadaan buruh yang sebenarnya. Ditengah hiruk pikuk kesibukan rutinitas kita sebagai manusia yang beradap, terkadang kita melupakan suatu fenomena sosial yang sedang berlangsung setiap harinya disekitar kita. Meskipun terkesan seperti kisah klasik tapi permasalahan ini tak kunjung tuntas diselesaikan oleh Pemerintah. Percaya atau tidak, ada pepatah yang mengatakan “a word once files everywhere...”

----------xxxxxxxxxx----------

Sabtu, 06 September 2008

"PENJARA GAMBIR"

"PENJARA GAMBIR"

Apa yang dirasa tentang suatu keadaan didalam penjara adalah sebuah tempat yang menyimpan kesunyian dan perenungan hidup. Sebuah tempat yang menampilkan wajah – wajah kegelisahan dan sebuah tempat penebusan dosa. Penjara tidak lebih dari sekedar lembah yang terasa begitu buas dengan suasana yang begitu dingin dari lingkungan sekitar. Penjara merupakan keterbatasan hidup dalam gerak dan bersosialisasi. Waktu yang berlalu didalam penjara seakan mempermainkan jalan hidup seseorang yang terasa begitu panjang. Sebuah kata penantian yang ditunggu untuk bertahan hidup dalam ketidakpastian. Mimpi indah yang teracuni hanya beralaskan lantai, serangan binatang malam tak luput menggerogoti badan. Tawa yang terlihat hanyalah samar dari bentuk penderitaan. Penyesalan yang datang sebagai tamu terakhir seakan membuat hati menangis. Penjara itu begitu kelam, tempat kumpulan orang – orang terbuang.
Penjara atau dipenjara itu sama saja... Hidup disana sama saja mati dalam hidup... Karena penjara adalah hal terkotor yang ada dibumi ini... Sesaat ku mengerti tentang penjara yang terasa begitu kental dihati. Sampai pada waktu memanggil kembali... Penjara yang hidup dalam pikiran ini adalah penjara gambir...

"SABTU SORE DI CAWANG"

"SABTU SORE DI CAWANG"

Sabtu sore didaerah Cawang, Jakarta Timur. Suasana saat itu begitu ramai sekali, bukan karena lalu lalang para pejalan kaki atau hiruk pikuk laju kendaraan pribadi atau umum, tetapi ramai para pedagang kaki 5 yang menghampar mempersiapkan beraneka ragam barang dagangannya. Dalam sekejap saja, Cawang yang seharusnya sebagai tempat para pejalan kaki turun dan naik bis, seolah – olah berhasil disulap menjadi sebuah pasar kecil yang begitu ramai dihuni para pedagang kaki 5. Lokasi yang diisi oleh para pedagang kaki 5 bukan dipinggir jalan saja. Tetapi mereka memenuhi segala sudut trotoar dan persimpangan jalan, memakan ruas jalan raya ditiap sisi demi mewujudkan hasrat yang bernilai rupiah. Aktivitas yang mereka lakukan ini sudah tentu sangat menganggu kenyamanan para pejalan kaki serta menimbulkan ketidaktertiban umum didalam masyarakat.
Fenomena sosial ini tentu saja mencerminkan betapa lemahnya kesadaran hukum yang dimiliki oleh masyarakat, selain itu juga memperlihatkan secara terang – terangan (terbuka) ketidaktegasan didalam mengusung sebuah tata tertib kota. Padahal disekitar daerah tersebut banyak terdapat polisi lalu lintas yang bertugas mengatur lalu lintas kendaraan pribadi ataupun umum. Keberadaan polisi disekitar daerah itu seakan – akan menunjukkan ketidakpeduliannya didalam menjaga ketertiban umum dari para pedagang kaki 5. Memang pada dasarnya ini bukanlah bagian dari tugas dan fungsi polisi, tetapi aparat yang lebih berwenang didalam upaya penegakkan ketertiban umum ini adalah Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja). Tetapi setidaknya para polisi tersebut dapat memberikan peringatan atau ketegasan kepada para pedagang kaki 5 agar tidak berjualan dipinggir jalan. Salah satu contoh konkrit dari salah satu pedagang kaki 5 adalah pedagang vcd yang lokasinya berada dibalik pagar dekat jalan layang. Para pedagang vcd ini secara terbuka menjual vcd porno dan memperlihatkan secara terang – terangan didepan khalayak umum. Kelakuan seperti inilah yang dapat merusak moralitas suatu Bangsa terutama para generasi muda, yang dengan mudahnya segala bentuk pikiran dan sikapnya terkontaminasi oleh suatu keadaan disekitarnya. Begitu banyak polisi yang ada disana, tetapi mengapa mereka semua (polisi) yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, seolah- olah tidak tahu – menahu akan hal ini. Apalagi kalau buka dengan “sesuatu” sang polisi pembela ketertiban umnum ini melakukan suatu gerakan tutup mulut. Dengan begitu sang pedagang vcd porno pun dapat bergerak begitu dinamis.
Dapat dimengerti hal ini merupakan pekerjaan sambilan dari polisi lalu lintas dalam “menjaga ketertiban umum”. Bisa dikatakan polisi yang begitu banyak didaerah Cawang dalam mengatur lalu lintas juga memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam menciptakan kemacetan lalu lintas sesaat didaerah Cawang, yang biasanya diakibatkan oleh bis antar kota yang mengetem (menunggu calon penumpang). Bisa dilihat secara jelas, tanpa malu – malu sang kernet bis menyelipkan “sesuatu” ketangan atau kebalik baju polisi. Agar dapat diizinkan sementara waktu untuk mengetem (menunggu calon penumpang), sementara itu bagi bis – bis yang tidak menyelipkan “sesuatu” akan segera disuruh cepat pergi dengan mengatasnamakan kemacetan lalu lintas. Polisi – polisi yang bertugas mengatur lalu lintas didaerah Cawang tidak ubahnya seperti badut yang sedang melakukan atraksi didalam suatu pertunjukkan yang ditonton oleh banyak orang. Badut yang berperut buncit sama dengan para polisi yang berperut buncit, karena perut polisi yang buncit itu adalah hasil dari permainan keringat rakyat kecil itu sendiri. Betapa memalukannya...
Sampai pada akhirnya suasana Sabtu sore didaerah Cawang masih terlihat begitu ramai, dengan beraneka ragam aktivitas yang ada mencerminkan betapa lemahnya jiwa seorang polisi dan betapa rendahnya moralitas yang dimiliki oleh oknum- oknum polisi tersebut serta betapa bobroknya jika kita mengetahui bahwa ternyata Instansi Kepolisian Republik Indonesia itu sebagian diisi oleh oknum – oknum polisi berperut buncit yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, tetapi malah menjaga ketidaktertiban umum demi “mengisi sesuatu” untuk perut buncitnya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah hal ini sudah mencapai taraf dibawah standarisasi otak para oknum polisi berperut buncit...???


----------XXXXXXXXXX----------

Jumat, 04 Juli 2008

“NONGKRONG DI WARTEG”

“NONGKRONG DI WARTEG”

Nongkrong di warteg sama nongkrong di restoran tentu sangat jauh berbeda, baik dari segi kualitas makanan yang disajikan, maupun dari segi pelayanan, suasana sampai dengan harga yang ditawarkan. Nongkrong di restoran kita bisa menyantap makanan yang jarang kita temui, dengan beraneka ragam nama yang terkadang sangat sulit sekali kita hapal. Di restoran kita juga akan mendapatkan pelayanan yang sangat memuaskan dari para waiters yang begitu sopan dan murah senyum. Tentunya hal ini juga didukung oleh suasana yang cukup nyaman, sambil menyantap hidangan yang telah disediakan kita bisa mendengarkan suara alunan musik yang terkadang membuat suasana menjadi semakin romantis dan menyenangkan. Yang pastinya itu semua harus dibayar dengan harga yang telah disesuaikan oleh fasilitas dan kemewahan yang telah disajikan. Rata – rata kebanyakan orang yang nongkrong di restoran ini adalah kaum menengah ke atas atau lebih tepatnya termasuk ke dalam golongan manusia elite yang bebal alias berkantong tebal. Suasana yang nyaman dan terkesan romantis ini terkadang selalu dijadikan landasan untuk melakukan pembicaraan – pembicaraan yang bersifat formal seperti mengundang relasi atau rekan bisnis untuk membahas tentang proyek terbaru dari perusahaan atau sampai pada pembicaraan seputar hubungan percintaan sepasang kekasih yang tidak jelas mau dibawa ke arah mana.

Lain halnya ketika pada saat nongkrong di warteg, kita akan menjumpai menu asli Indonesia yaitu tahu dan tempe, tidak ketinggalan sambel terasi serta goreng – gorengan yang ada. Nongkrong di warteg juga bisa mendapatkan pelayanan yang baik asal tidak melakukan kasbon atau dengan bahasa bekennya ngutang, yang bisa membuat pemilik warteg jadi uring – uringan ketika melayani. Suasana yang didapat pun sangat berbeda karena berbaur dengan tukang ojek, tukang becak dan buruh, sehingga pada saat menyantap makanan seringkali tercium aroma badan yang kurang sedap. Panas dan gerah itulah keadaannya karena beratapkan seng yang dapat menghantarkan panas dari sengatan matahari. Harganya pun cukup terjangkau, sangking terjangkaunya banyak pelanggan yang melakukan kasbon karena merasa sanggup membayar dikemudian hari. Selain itu pada saat nongkrong di warteg jarang sekali kita mendengar bisik – bisik dari tetangga sebelah yang berbicara mengenai masalah percintaan atau bisnis perusahaan. Yang ada malah sebaliknya terdengar nada – nada sumbang berbalut keluhan mengenai pekerjaan atau urusan rumah tangga seperti “kenapa ya kontrak kerja gue gak diperpanjang...???” atau seperti ini “waduh bini gue dirumah uring – uringan mulu gara – gara kagak gue kasih uang belanja” sampai dengan pembicaraan lepas atau seringkali disebut ngobrol ngalor ngidul mengenai menang kalah taruhan pertandingan sepak bola semalam atau menanggapi soal kenaikan harga BBM sampai – sampai pembicaraan mengenai nomer togel yang kira – kira akan keluar. Bahkan terkadang ada pembahasan mengenai perang yang tengah berkecamuk antar negara yang buntut – buntutnya mengarah pada pertanyaan siapa penemu bom atom....???

Menarik sekali jika ditelusuri, dan ternyata warteg telah menjadi suatu bentuk aktivitas dimana kaum menengah ke bawah selalu mendatanginya sebagai tempat bersandar melepas lelah atau sekedar ngeceng sambil ngopi. Secara tidak langsung warteg juga sebagai tempat berkeluh kesah tentang susahnya mencukupi kebutuhan hidup pada saat ini. Di sisi lain warteg juga bisa sebagai tempat yang menyenangkan untuk mencari lawan bermain catur atau sebagai tempat transaksi jual beli nomer togel. Tanpa disadari seakan – akan warteg menjadi saksi tentang keceriaan dan kesedihan rakyat miskin. Hal inilah sangat membedakan ketika kita nongkrong di warteg dengan nongkrong di restoran, tergantung selera dan isi kantong kita untuk memilih nongkrong dimana, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan serta menjadi ciri khas tersendiri.

--------xxxxxxxxxxxx--------

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

“DEMOKRASI (tanpa) KEKERASAN”

Ketika suara – suara demokrasi tidak lagi didengar, ketika para pejabat Pemerintah terlalu lama bermain dengan pertimbangan dan ketika pada saatnya suatu bentuk perubahan memakan korban. Maka yang akan terjadi selanjutnya adalah chaos (kerusuhan). Hal ini bisa dikatakan sebagai hukum alam yang dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Seperti yang terjadi pada saat ini, Dampak dari kenaikan harga BBM dan insiden berdarah di UNAS telah memicu adanya aksi demonstrasi mahasiswa yang tergabung didalam Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) untuk melakukan aksi unjuk rasa didepan Gedung DPR/MPR pada hari Selasa (24/6) kemarin. Pada aksi demonstrasi kali ini mahasiswa lebih bersifat anarkis dengan melakukan pemblokiran di jalan-jalan protokol seperti Jalan H.R. Rasuna Said, Jalan Gatot Subroto, serta pada sore harinya di Jalan Sudirman dikawasan Semanggi. Aksi anarkis mahasiswa tidak hanya dengan melakukan pemblokiran jalan, tetapi mahasiswa juga melakukan aksi pengerusakan mobil polisi dan pintu pagar Gedung DPR/MPR. Selain itu mahasiswa juga melakukan aksi pembakaran mobil dinas berplat merah yang diduga mobil tersebut milik Pemerintah.

Mencermati fenomena yang terjadi pada saat ini, aksi demonstrasi mahasiswa yang cenderung bersifat anarkis, lebih terlihat mengedepankan perasaan emosi ketimbang sisi intelektualitas yang ada. Sehingga penyampaian aspirasi masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa tidak lagi terlihat sebagai perjuangan rakyat yang murni tetapi sebagai perjuangan rakyat yang telah dikotori dan terkesan ditunggangi oleh sekelompok kepentingan yang ada. Seharusnya mahasiswa bisa menempatkan diri dan merapatkan barisan didalam menyelesaikan dan menanggapi persoalan kenaikan BBM dan insiden berdarah di UNAS, bukan dengan jalan kekerasan dan kerusuhan. Logikanya jika tuntutan dari mahasiswa ini dipenuhi oleh Pemerintah, pasti akan menguntungkan rakyat. Tetapi jika sebaliknya Pemerintah lebih bersikap pasif dan tidak memenuhi tuntutan dari mahasiswa pasti akan merugikan rakyat, karna apa ? tidak lain karna aksi anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa. Mengakibatkan terjadinya kemacetan lalu lintas, masyarakat sipil yang tidak tahu menahu tentang aksi demonstrasi ini tertangkap oleh aparat kepolisian, terjadinya bentrokan antara aparat dengan mahasiswa yang melukai sebagian dari masyarakat sipil. Apakah ini yang dinamakan suatu bentuk pengorbanan jika menginginkan adanya suatu perubahan…??? Tidak…!!! bukan seperti ini yang dinamakan pengorbanan yang pada akhirnya menyengsarakan masyarakat sipil juga. Masyarakat mempercayai mahasiswa sebagai pembawa amanah dan aspirasi masyarakat, seharusnya hal ini dapat dipegang teguh dan dijalankan oleh mahasiswa dengan sebaik mungkin. Mengutamakan intelektualitas dan kecerdasan yang ada dengan jalan perundingan yang dilakukan oleh sebagian dari perwakilan mahasiswa dengan anggota komisi DPR/MPR yang mewadahi dari permasalahan itu sendiri. Duduk bersama membahas permasalahan dan mencari jalan keluarnya untuk kepentingan bersama. Dengan cara seperti itu mahasiswa akan terlihat lebih dewasa, bukankah sedari dulu mahasiswa sebagai agent of change atas Negeri ini. Hendaknya hal itu disadari dengan bersifat diplomatis dan bijak dalam menyingkapi permasalahan yang ada.

Nampaknya kita juga harus tahu fungsi dasar dari keberadaan mahasiswa ini adalah sebagai kontrol terhadap kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, sah – sah saja jika mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa jikalau kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah itu tidak berpihak dan terlalu merugikan rakyat karna memang pada dasarnya mahasiswa sebagai wadah yang menjembatani antara kepentingan Pemerintah dengan kepentingan rakyat. Tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah unjuk rasa dengan cara seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk bisa mendapatkan simpati dari rakyat…??? Dengan cara kekerasan ataukah dengan cara tertib dan damai…???

Kita mungkin hanya bisa tersenyum ketika melihat aksi kekerasan dalam unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa kemarin atau bahkan sebagian dari kita hanya dapat mampu mencibir melihat fenomena itu terjadi atau yang lebih parahnya lagi mungkin sebagian dari kita mengambil sikap tidak peduli. Tetapi itulah demokrasi kita bebas untuk mengekspresikan diri. Karna memang mulai saat ini sayup – sayup terdengar suara demokrasi seakan tidak berfungsi jika kekerasan menjadi landasan.

--------xxxxxxxxxxxx--------

“AKU”

“AKU”

Aku ingin menjadi lampu yang sinarnya memancarkan ke segala penjuru memberikan arti bagi babak baru dari sebuah kehidupan. Aku ingin menjadi mata air alami yang dibutuhkan oleh umat manusia demi kelangsungan hidupnya. Aku ingin menjadi gubuk tua sebagai tempat bersandarnya fajar penderitaan disaat bunga kebahagiaan tidak terbit. Aku ingin menjadi pohon besar yang memberikan keteduhan bagi jiwa yang dilanda kecemasan dan roh – roh yang mengitari rasa ketakutan. Aku ingin menjadi malam yang selalu menentramkan serta mendamaikan suasana hati dari kesedihan lalu merangkulnya ke alam mimpi. Aku ingin menjadi kepastian yang menghadirkan kenyataan setelah harapan pergi. Dan aku ingin menjadi suatu maha karya yang senantiasa mengorbitkan inspirasi dan imajinasi untuk para penyair dan pujangga disaat standart otak merajai saraf pengetahuan. Untuk terakhir kalinya aku berkeinginan menjadi taman surga yang melimpahkan kebahagiaan, kekayaan, kesenangan, kemudahan, kepastian untuk para penghuni bumi.

--------xxxxxxxxxxxx--------