"SABTU SORE DI CAWANG"
Sabtu sore didaerah Cawang, Jakarta Timur. Suasana saat itu begitu ramai sekali, bukan karena lalu lalang para pejalan kaki atau hiruk pikuk laju kendaraan pribadi atau umum, tetapi ramai para pedagang kaki 5 yang menghampar mempersiapkan beraneka ragam barang dagangannya. Dalam sekejap saja, Cawang yang seharusnya sebagai tempat para pejalan kaki turun dan naik bis, seolah – olah berhasil disulap menjadi sebuah pasar kecil yang begitu ramai dihuni para pedagang kaki 5. Lokasi yang diisi oleh para pedagang kaki 5 bukan dipinggir jalan saja. Tetapi mereka memenuhi segala sudut trotoar dan persimpangan jalan, memakan ruas jalan raya ditiap sisi demi mewujudkan hasrat yang bernilai rupiah. Aktivitas yang mereka lakukan ini sudah tentu sangat menganggu kenyamanan para pejalan kaki serta menimbulkan ketidaktertiban umum didalam masyarakat.

Fenomena sosial ini tentu saja mencerminkan betapa lemahnya kesadaran hukum yang dimiliki oleh masyarakat, selain itu juga memperlihatkan secara terang – terangan (terbuka) ketidaktegasan didalam mengusung sebuah tata tertib kota. Padahal disekitar daerah tersebut banyak terdapat polisi lalu lintas yang bertugas mengatur lalu lintas kendaraan pribadi ataupun umum. Keberadaan polisi disekitar daerah itu seakan – akan menunjukkan ketidakpeduliannya didalam menjaga ketertiban umum dari para pedagang kaki 5. Memang pada dasarnya ini bukanlah bagian dari tugas dan fungsi polisi, tetapi aparat yang lebih berwenang didalam upaya penegakkan ketertiban umum ini adalah Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja). Tetapi setidaknya para polisi tersebut dapat memberikan peringatan atau ketegasan kepada para pedagang kaki 5 agar tidak berjualan dipinggir jalan. Salah satu contoh konkrit dari salah satu pedagang kaki 5 adalah pedagang vcd yang lokasinya berada dibalik pagar dekat jalan layang. Para pedagang vcd ini secara terbuka menjual vcd porno dan memperlihatkan secara terang – terangan didepan khalayak umum. Kelakuan seperti inilah yang dapat merusak moralitas suatu Bangsa terutama para generasi muda, yang dengan mudahnya segala bentuk pikiran dan sikapnya terkontaminasi oleh suatu keadaan disekitarnya. Begitu banyak polisi yang ada disana, tetapi mengapa mereka semua (polisi) yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, seolah- olah tidak tahu – menahu akan hal ini. Apalagi kalau buka dengan “sesuatu” sang polisi pembela ketertiban umnum ini melakukan suatu gerakan tutup mulut. Dengan begitu sang pedagang vcd porno pun dapat bergerak begitu dinamis.
Dapat dimengerti hal ini merupakan pekerjaan sambilan dari polisi lalu lintas dalam “menjaga ketertiban umum”. Bisa dikatakan polisi yang begitu banyak didaerah Cawang dalam mengatur lalu lintas juga memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam menciptakan kemacetan lalu lintas sesaat didaerah Cawang, yang biasanya diakibatkan oleh bis antar kota yang mengetem (menunggu calon penumpang). Bisa dilihat secara jelas, tanpa malu – malu sang kernet bis menyelipkan “sesuatu” ketangan atau kebalik baju polisi. Agar dapat diizinkan sementara waktu untuk mengetem (menunggu calon penumpang), sementara itu bagi bis – bis yang tidak menyelipkan “sesuatu” akan segera disuruh cepat pergi dengan mengatasnamakan kemacetan lalu lintas. Polisi – polisi yang bertugas mengatur lalu lintas didaerah Cawang tidak ubahnya seperti badut yang sedang melakukan atraksi didalam suatu pertunjukkan yang ditonton oleh banyak orang. Badut yang berperut buncit sama dengan para polisi yang berperut buncit, karena perut polisi yang buncit itu adalah hasil dari permainan keringat rakyat kecil itu sendiri. Betapa memalukannya...
Sampai pada akhirnya suasana Sabtu sore didaerah Cawang masih terlihat begitu ramai, dengan beraneka ragam aktivitas yang ada mencerminkan betapa lemahnya jiwa seorang polisi dan betapa rendahnya moralitas yang dimiliki oleh oknum- oknum polisi tersebut serta betapa bobroknya jika kita mengetahui bahwa ternyata Instansi Kepolisian Republik Indonesia itu sebagian diisi oleh oknum – oknum polisi berperut buncit yang “katanya” bertugas menjaga ketertiban umum, tetapi malah menjaga ketidaktertiban umum demi “mengisi sesuatu” untuk perut buncitnya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah hal ini sudah mencapai taraf dibawah standarisasi otak para oknum polisi berperut buncit...???----------XXXXXXXXXX----------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar