“KRISIS BIMBANG”
Dewasa ini para pemuda Indonesia tengah mengalami krisis bimbang dalam kehidupannya. Mengapa ? Karna pada dasarnya orientasi yang dimiliki oleh para pemuda adalah mencari lapangan pekerjaan. Ditengah - tengah himpitan ekonomi yang semakin merajalela menimbulkan dampak adanya keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Atas dasar itulah para pemuda berusaha mencari lapangan pekerjaan. Ditengah suasana padatnya jumlah populasi pengangguran yang semakin meningkat setiap tahunnya di Indonesia, para pemuda mencoba melawan arus keadaan dengan melakukan persaingan secara sehat demi mewujudkan dasar orientasi dari mimpinya tersebut. Adanya persaingan antar pemuda tersebut dikarenakan sangat terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia baik dari pihak swasta ataupun dari Instansi Pemerintah. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan antara banyaknya jumlah pengangguran dengan terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia, sehingga melahirkan gejolak psikologis dalam diri para pemuda yang disebut krisis bimbang.
Tidak sampai disitu saja krisis bimbang ini masih terus menghantui jiwa para pemuda yang notabene belum mendapatkan pekerjaan. Seiring perjalanan waktu para pemuda terus bertanya - tanya dalam dirinya tentang prospek cerah mengenai karir dari pekerjaannya diwaktu mendatang atau tentang status para pemuda yang belum menggondol gelar karyawan tetap, karna untuk sementara ini masih menjadi karyawan kontrak. Meskipun dapat dikatakan bahwa sebagian besar para pemuda terlibat didalam perusahaan – perusahaan besar yang mayoritas memiliki “nama” serta bekerja secara elegan (berpenampilan seperti orang kantoran), namun sebagian dari para pemuda belumlah menjadi karyawan tetap didalamnya dan masih terikat sebagai karyawan kontrak yang tanpa disadari mau atau tidak mau para pemuda secara langsung atau tidak langsung dipaksa secara terpaksa untuk terlibat ke dalam outsourcing (perusahaan jasa pencari kerja).
Perlu diketahui sebelumnya outsourcing ini merupakan suatu proses bentuk pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Dapat juga dikatakan outsourcing ini sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya, tetapi pada realitasnya outsourcing ini cenderung didominasi oleh “keserakahan” sebuah perusahaan untuk bisa menekan biaya serendah – rendahnya dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan setinggi – tingginya. Hal inilah yang tanpa disadari telah melanggar etika bisnis. Sementara disisi lain outsourcing secara langsung telah mengurangi sebagian besar hak – hak dari karyawan yang seharusnya bisa menjadi karyawan tetap dan outsourcing itu sendiri menutup semua kesempatan karyawan untuk menjadi tetap. Sehingga melahirkan dampak rawan secara sosial (kecemburuan antar rekan kerja) juga rawan secara pragmatis (kepastian kerja, kelanjutan kontrak, jaminan pensiun).
Persoalan inilah yang menjadi dasar lahirnya krisis bimbang dalam diri para pemuda, disamping persoalan sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Dalam menanggapi persoalan outsourcing ini pergerakan para pemuda ada diantara dua pilihan yaitu melawan arus keadaan atau berdamai dengan keadaan. Bagi para pemuda yang masih memiliki pengharapan sebuah masa depan yang cerah, tentunya ia akan melawan arus keadaan, melawan outsourcing yang merupakan bentuk dari penjelmaan kapitalis dengan intelektualitas yang dimilikinya. Tetapi bagi para pemuda yang tidak ingin mengambil resiko dan memiliki sifat cair seperti es, ia akan berdamai dengan keadaan menjadi budak kapitalis sejati yang senantiasa bermake up tebal agar selalu terlihat manis.
Yang pada akhirnya artikel ini ditulis sebagai bentuk pencerahan dalam menyimak segi realitas yang terpendam. Mencoba mewakili bahasa hati para pemuda yang senantiasa dihantui oleh krisis bimbang dalam dirinya.

Tidak sampai disitu saja krisis bimbang ini masih terus menghantui jiwa para pemuda yang notabene belum mendapatkan pekerjaan. Seiring perjalanan waktu para pemuda terus bertanya - tanya dalam dirinya tentang prospek cerah mengenai karir dari pekerjaannya diwaktu mendatang atau tentang status para pemuda yang belum menggondol gelar karyawan tetap, karna untuk sementara ini masih menjadi karyawan kontrak. Meskipun dapat dikatakan bahwa sebagian besar para pemuda terlibat didalam perusahaan – perusahaan besar yang mayoritas memiliki “nama” serta bekerja secara elegan (berpenampilan seperti orang kantoran), namun sebagian dari para pemuda belumlah menjadi karyawan tetap didalamnya dan masih terikat sebagai karyawan kontrak yang tanpa disadari mau atau tidak mau para pemuda secara langsung atau tidak langsung dipaksa secara terpaksa untuk terlibat ke dalam outsourcing (perusahaan jasa pencari kerja).
Perlu diketahui sebelumnya outsourcing ini merupakan suatu proses bentuk pemindahan tanggung jawab tenaga kerja dari perusahaan induk ke perusahaan lain diluar perusahaan induk. Dapat juga dikatakan outsourcing ini sebagai sebuah strategi kompetisi perusahaan untuk fokus pada inti bisnisnya, tetapi pada realitasnya outsourcing ini cenderung didominasi oleh “keserakahan” sebuah perusahaan untuk bisa menekan biaya serendah – rendahnya dan berusaha untuk mendapatkan keuntungan setinggi – tingginya. Hal inilah yang tanpa disadari telah melanggar etika bisnis. Sementara disisi lain outsourcing secara langsung telah mengurangi sebagian besar hak – hak dari karyawan yang seharusnya bisa menjadi karyawan tetap dan outsourcing itu sendiri menutup semua kesempatan karyawan untuk menjadi tetap. Sehingga melahirkan dampak rawan secara sosial (kecemburuan antar rekan kerja) juga rawan secara pragmatis (kepastian kerja, kelanjutan kontrak, jaminan pensiun).
Persoalan inilah yang menjadi dasar lahirnya krisis bimbang dalam diri para pemuda, disamping persoalan sulitnya mencari lapangan pekerjaan. Dalam menanggapi persoalan outsourcing ini pergerakan para pemuda ada diantara dua pilihan yaitu melawan arus keadaan atau berdamai dengan keadaan. Bagi para pemuda yang masih memiliki pengharapan sebuah masa depan yang cerah, tentunya ia akan melawan arus keadaan, melawan outsourcing yang merupakan bentuk dari penjelmaan kapitalis dengan intelektualitas yang dimilikinya. Tetapi bagi para pemuda yang tidak ingin mengambil resiko dan memiliki sifat cair seperti es, ia akan berdamai dengan keadaan menjadi budak kapitalis sejati yang senantiasa bermake up tebal agar selalu terlihat manis.Yang pada akhirnya artikel ini ditulis sebagai bentuk pencerahan dalam menyimak segi realitas yang terpendam. Mencoba mewakili bahasa hati para pemuda yang senantiasa dihantui oleh krisis bimbang dalam dirinya.
---------------xxxxxxxxxx---------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar