
“ CATATAN HARI INI “
Sudah cukup jauh aku berjalan, dari sekian ribu waktu yang telah dilalui begitu banyak hal yang aku temui. Memberikan makna yang berbeda dalam setiap kisah tentang kehidupan. Melahirkan segumpal tanya tentang seputar kehidupan apakah memang materi yang telah menjadi kuasa hidup sementara ada kesalahan dalam diskriminasi antar golongan…??? Menyebabkan terjadinya jurang kesenjangan sosial yang semakin dalam antara Si kaya dan Si miskin. Mengapa seseorang selalu menilai penampilan pada satu nilai yang lebih, hanya sekedar menunjukkan eksistensi dirinya…??? Baik atau tidaknya seseorang sering kali dinilai atas landasan praduga sementara. Cobalah sejenak kita renungkan tentang siapa diri kita yang sebenarnya dan tentang siapa mereka yang sebenarnya, tentang kaum minoritas yang termajinalkan oleh keadaan sekitar. Tentang suatu kaum yang sebenarnya layak duduk disamping kita, berbagi dalam suasana persaudaraan tanpa memandang adanya perbedaan. Pada catatan hari ini aku akan mencoba mengisahkan tentang sisi lain dari kehidupan perempuan malam, pengemis dan penyapu jalan. Yang tak lain ketiganya merupakan bagian dari kehidupan kita.
Pada malam itu di stasiun tua didepan gerbong kereta yang kosong dan gelap. Ia berdiri menggoda dengan sebatang rokok yang menghiasi jarinya. Perempuan malam itu selalu melemparkan senyum pada setiap pria yang melewatinya. Menawarkan jasa kehangatan demi beberapa lembar rupiah. Tentunya kita tidak akan pernah tahu untuk apa hasil yang ia dapatkan disetiap malam. Untuk bertahan hidup menambal rasa lapar ? Untuk membeli susu demi kesehatan anaknya ? Ataukah untuk memperkaya diri, dengan segala macam aksesoris kosmetik ? Pastinya ia memiliki sebuah harapan yang mulia. Perempuan malam yang terlihat begitu hina memiliki banyak cerita tentang petualangan bercinta atau tentang kehidupan yang terasa menjemukan, perempuan malam yang dijuluki sampah masyarakat, ternyata memiliki air mata tentang kegetiran hidup atau tentang kenikmatan duniawi. Perempuan malam yang terlihat begitu nakal ternyata memiliki satu kebaikan, nurani sosial berbicara bahwa hidup tidak mengenal individualistis. Perempuan malam yang terlihat begitu binal ternyata hidup dalam jeratan setan ekonomi. Bahwasanya setitik keringat membawanya pada satu nilai rupiah. Bertahun – tahun ia menjalani profesi ini sampai pada saat keriput – keriput wajah mulai terlihat. Usia tidak dapat menipu diri meski begitu tebal make up diwajah, tidak membuatnya merasa malu, walau nilai dirinya tidak semahal dahulu.
Di stasiun tua didepan gerbong kereta yang kosong dan gelap menjadi sebuah arti kisah tentang perempuan malam. Menjadi saksi tentang perjalanan hidupnya. Sampai terdengar sayup – sayup suara azan subuh memanggil, perempuan malam bergegas kembali kerumah. Mengingat kembali bahwa setiap malam memiliki kisah yang berbeda.
Jauh beberapa puluh kilometer dari stasiun tua, tepatnya dipersimpangan lampu merah memiliki kisah yang berbeda tentang pengemis tua. Sandiwara kehidupan ini tidak lebih menonjolkan sisi realitas yang ada. Berbicara tentang Kemiskinan…. Dipersimpangan lampu merah ia menyandarkan hidupnya. Di batas lelah lalu lalang baja beroda ia menyuguhkan ketiadaan. Harapan yang senantiasa ia terbangkan terkadang tidak datang kembali. Udara yang tidak segar dari senapan – senapan knalpot beroda menjadi santapan harian. Dengan menadahkan tangan memasang raut wajah yang layu menjadikan pekerjaan. Semua yang ia lakukan adalah demi kelangsungan hidup, demi mengisi kekosongan perut dan demi orang – orang terdekat yang ia sayangi. Pekerjaan yang berbalut kebiasaan ini pun tak selamanya disambut baik oleh perasaan hati yang iba. Kedongkolan yang berakar pada realitas dan logika seakan menahan diri untuk memberi, atau bahkan untuk sekedar memberi senyuman dan menganggukan kepala sebagai rasa hormat, telah dilupakan oleh jiwa – jiwa yang menjungjung tinggi nilai – nilai materialisme.
Meskipun begitu ia masih tetap mampu bertahan hidup karna tangan Tuhan memiliki peran. Dari hati kecil yang paling dalam ia menorehkan tinta kebosanan karna takdir dan nasib telah menjadi suatu alasan. Tak kenal lelah ia menyapa dan menghampiri serangkaian pasukan berhelm atau baja beroda empat. Ketika sepi tiba ia sempatkan diri untuk menghitung tiap lembar rupiah yang sama dekil dengan dirinya. Ia bernyanyi dengan mulut terkunci dan berbicara dengan bahasa perasaan. Tentang makna hidup yang sebenarnya telah ia tunjukkan lewat rutinitasnya. Karna dipersimpangan lampu merah telah menjadi simbol tentang ketiadaan, tentang kemiskinan dan tentang siapa diri kita yang sebenarnya telah menjadi cermin disana.
Lalu apa komentar mereka yang tak mengenal makna kehidupan yang sesungguhnya, tentang penyapu jalan. Apakah ia sebagai manusia rendahan…??? Apakah ia termasuk manusia yang tak layak untuk diperhitungkan…??? Apakah ia juga termasuk golongan sampah sama seperti profesinya…??? Kenapa…??? Begitu banyak orang memandang dari segi luarnya saja. Tidakkah mereka semua menyadari, bahwa penyapu jalan memiliki peran penting dalam mengubah wajah kota, lebih penting daripada mereka para pejabat yang sibuk dengan teori – teori dibalik meja kerja, bicara tentang kebersihan kota…. Dimana prakteknya…??? Penyapu jalan lebih menunjukkan nilai eksistensi dan peran jati dirinya, bergerak bebas sehingga terlihat hasil kerjanya. Diballik seragam lusuhnya ia memiliki tanggung jawab yang besar dalam menyelamatkan reputasi wajah kota. Tapi… Sayang tidak sebanding dengan apa yang ia dapatkan selama ini. Tidak ada pengakuan atau penghargaan untuk dirinya apalagi untuk sekedar kenaikan gaji… Tidak ada… !!! Yang ada hanya penghargaan bagi kota yang bersih itu juga yang menerima penghargaan adalah Walikota setempat. Meski begitu penyapu jalan adalah pahlawan kota yang terlupakan, termajinalkan oleh suatu keadaan dan sangat perlu diperhitungkan serta layak untuk diperhatikan.
Dari ketiga fenomena diatas dapat kita lihat bahwa ternyata memang benar materi telah menjadi suatu tolak ukur dalam kehidupan ini. Pada umumnya mereka adalah kaum minoritas yang terjerat didalam lingkaran setan ekonomi. Membuat diri mereka semakin termajinalkan oleh suatu keadaan. Mengakibatkan lahirnya perbedaan diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Melupakan persamaan yang ada bahwa mereka juga manusia yang layak untuk dihargai. Hilangnya rasa persaudaraan pada tiap – tiap individu telah membuka jurang adanya kesenjangan sosial diantara mereka. Masih ingatkah kita bahwasanya manusia diciptakan sebagai mahkluk sosial, yang sisi kehidupannya tidak dapat terlepas dari bantuan manusia lainnya. Tapi sepertinya kesadaran itu semakin memudar seiring adanya kemajuan globalisasi. Bagi mereka kaum minoritas yang tidak memiliki kesempatan untuk berkompetisi secara global akan dianggap remeh oleh mata – mata yang haus akan materi.
Kaum minoritas sama seperti kita lazimya manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan. Mereka memiliki hak atas apa yang telah kita dapatkan. Mari bersama kita ulurkan tangan guna meringankan beban hidup mereka, menyisihkan sebagian apa yang kita punya guna memenuhi kebutuhan hidup mereka. Lupakan perbedaan yang ada, tanamkan rasa persaudaraan dihati. Bahwa makna hidup sebenarnya adalah saling memberi antar sesama manusia, satu hal yang menjadi alasan mengapa harus begini karna kita hidup tidak sendiri, kita juga hidup dalam kebersamaan memerlukan bantuan orang lain. Jadi sudah sewajarnya kita memiliki sikap untuk berbuat baik antar sesama. Mudah - mudahan semua mimpi dapat terangkai dan tali silaturahmi dapat terjalin. Pastinya akan lahir satu kedamaian dalam hidup ini. Amin.
Catatan hari ini merupakan suatu bentuk refleksi diri tentang suatu keadaan disekitar kita, yang tidak akan pernah bisa terlepas dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Mencoba mengupas sisi lain dari realitas yang ada dengan menyajikan keadaan yang sebenarnya. Mudah – mudahan dapat diambil manfaatnya, sedikit menyegarkan pikiran agar tidak terjadi stagnan didalam pola pikir kita terhadap satu penilaian.
------xxxxxxxxx------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar