Sabtu, 07 Juni 2008

“ INDONESIA BERKABUNG ”

“ INDONESIA BERKABUNG ”


Indonesia berkabung, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi pada saat ini. Berbagai macam polemik muncul ditengah – tengah kesengsaraan rakyat miskin. Beraneka ragam dinamika permasalahan yang ada seakan tidak habis tuntas untuk dapat diselesaikan secara baik dengan mengatasnamakan kebersamaan. Tetapi dari sinilah kita masih dapat mampu melihat dan mencium aroma demokrasi yang ada. Meskipun itu masih terlihat samar, suara – suara demokrasi masih sayup – sayup terdengar dengan jelas. Tentunya masih teringat dalam benak kita mengenai kebijakan Pemerintah dalam rangka menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada hari sabtu (24/5) bulan lalu, yang mengundang reaksi keras dari berbagai unsur, elemen dan golongan masyarakat, yang menolak secara tegas atas kenaikan harga BBM tersebut. Gelombang aksi unjuk rasa ini pun terjadi hampir diseluruh bumi nusantara tercinta ini. Sampai pada saat mencapai klimaksnya terjadi insiden berdarah dikampus Universitas Nasional (UNAS). Insiden ini terjadi karena adanya penyerangan secara mendadak dari aparat kepolisian terhadap mahasiswa UNAS selepas mengadakan aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Gerakan mahasiswa ini dilatarbelakangi oleh rasa ketidakpuasan dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa terhadap kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah tersebut. Selain itu juga dikarenakan oleh semangat kebangkitan nasional yang baru saja kita peringati pada tanggal 20 Mei bulan lalu.

Sungguh sangat memperihatinkan sekali bahwa dengan adanya insiden ini telah berhasil mencoreng nama baik instansi kepolisian selaku lembaga institusi pelindung masyarakat menjadi lembaga institusi musuh masyarakat, khususnya musuh para mahasiswa. Mahasiswa selaku agent of change atau biang perubahan terhadap suatu bangsa yang dilahirkan dari suatu keadaan bangsa yang tidak normal, mencoba menyingkapi berbagai permasalahan yang ada dengan suara – suara demokrasi, tetapi sangat ironis sekali jika suara – suara demokrasi itu telah berhasil disumpal untuk sementara waktu oleh tindak kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian. Lantas dimana makna sesungguhnya dari peringatan 100 tahun kebangkitan nasional yang selama ini selalu didengung – dengungkan lewat media massa dan elektronik berupa iklan – iklan ditelevisi dan koran. Apakah ini hanya bentuk skenario dari sandiwara politik agar nilai eksistensi yang mengatasnamakan suatu golongan dapat dihargai…??? Ataukah hanya sekedar formalitas untuk kembali mengingat pada romantisme masa lalu tentang sejarah pergerakkan di Indonesia…??? Apapun jawabannya hanya Tuhan yang tahu.

Belum tuntas permasalahan ini diselesaikan, telah muncul masalah baru lagi. Yakni terjadi insiden berdarah di Silang Monas pada hari minggu (1/6). Insiden ini terjadi karena adanya penyerangan secara mendadak dari Front Pembela Islam (FPI) terhadap massa Aliansi Kebangkitan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang pada saat itu tengah mengadakan acara peringatan hari lahirnya Pancasila. Latar belakang terjadinya penyerangan yang dilakukan oleh FPI ini dikarenakan adanya persepsi bahwa sebagian massa dari AKKBB ini menganut aliran sesat Ahmadiyah. Walhasil dampak dari penyerangan FPI ini mendapat kecaman keras dari berbagai unsur dan golongan keagamaan diberbagai daerah di Indonesia, yang menuntut untuk segera dibubarkannya FPI. Akhirnya pada hari rabu (4/6) aparat kepolisian berhasil menangkap para pelaku FPI termasuk Ketua Umum FPI Pusat itu sendiri untuk dimintai keterangannya sebagai saksi dan penanggung jawab atas terjadinya insiden berdarah ini. Penangkapan ini sebelumnya telah didahului oleh pembekuan FPI diberbagai daerah seperti cabang FPI di daerah Jember dan Surabaya, telah menyatakan diri untuk membubarkan FPI.

Lagi – lagi dalam hal ini kita bisa melihat betapa kurangnya jiwa nasionalisme yang terkandung didalam batin anak – anak bangsa Indonesia pada saat ini. Menodai hari lahirnya Pancasila dengan bentuk kekerasan yang ada. Mengutamakan perbedaan tanpa melihat adanya nilai – nilai persaudaraan yang terangkum didalam sila ketiga yakni Persatuan Indonesia. Bung Karno selaku The Founding Fathers pasti akan menangis dan mengutuk secara tegas aksi yang terjadi pada tanggal 1 Juni minggu lalu. Ibu pertiwi yang telah dibesarkannya ini akan terasa percuma jika setiap waktunya hanya diisi oleh tindak kekerasan yang mengatasnamakan perbedaan. Sungguh betapa memprihatinkan nasib masa depan Negeri ini, jika hal yang serupa dapat terulang lagi.

Berbagai rangkaian persoalan di Negeri ini datang satu persatu ditengah – tengah titik keringat rakyat miskin yang merasa begitu sulit dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dari sinilah kita dapat melihat betapa besar peran dari media massa dalam menangkap dan menggabarkan suatu berita. Disatu sisi media massa dapat berperan aktif didalam mewujudkan suatu keadaan menjadi lebih baik lagi, tetapi disisi lain media massa dapat menutup semua kenyataan tentang kejadian yang sebenarnya. Sangat dikhawatirkan sekali bahwa peran media massa yang terlalu “mempopulerkan” berita – berita faktual terkini membawa dampak negatif disekeliling masyarakat, yakni melupakan permasalahan bangsa yang sangat krusial dibidang kesejahteraan rakyat, yaitu tentang naiknya harga BBM yang nantinya cepat atau lambat akan disusul dengan kenaikan tarif listrik dan air. Tidak dapat dipungkiri bahwa pristiwa – pristiwa yang terjadi akhir – akhir ini telah dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengatasnamakan suatu golongan untuk berleha – leha dalam menyalurkan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk rakyat miskin diberbagai daerah. Sementara itu disisi lain media massa melupakan hal tersebut bahwasanya telah terjadi antrian panjang dalam mencairkan dana BLT atau terjadinya birokrasi kompleks didalam pencairan dana BLT tersebut. Pastinya kita sangat mengharapkan sekali bahwa media massa dapat membuktikan eksistensi dirinya sebagai lembaga pers yang bersifat independent, tanpa dipengaruhi oleh berbagai kelompok kepentingan yang ada. Semoga dengan adanya kebebasan pers pada era Reformasi saat ini tidak membuaikan peran dari media massa yang sesungguhnya.

Tidak lebih dari sekedar wacana, bahwa ada atau tidaknya BLT ini, Pemerintah pasti akan memberikan subsidi bagi rakyatnya. Begitu juga sebaliknya ada atau tidaknya subsidi dari Pemerintah ini rakyat miskin masih sanggup untuk bertahan hidup. Tetapi jangan pernah dilupakan bahwa kehadiran rakyat miskin akan terus bertambah seiring dengan kebijakan Pemerintah didalam menaikkan harga BBM tersebut. Angka kemiskinan akan naik secara drastis meskipun Pemerintah telah memberikan subsidi kepada rakyatnya yang tak lain kalau disalahartikan subsidi ini hanya sekedar hiburan sementara. Suatu bentuk pembodohan yang dilakukan secara abstrak agar masyarakat hidup dalam ketergantungan ekonomi, tidak lain maksudnya untuk membuat mereka malas bekerja dan malas berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa harus bergantung pada BLT. Rasanya tidak terlalu berlebihan jika suasana hati saat ini menyatakan Indonesia berkabung…!!!

--------xxxxxxxxxxxx--------

Tidak ada komentar: